Jumat, 15 April 2011

URGENSI PARADIGMA ILMU DALAM PROSES KEILMUAN (Analisa Teori Paradigma Thomas Samuel Kuhn

URGENSI PARADIGMA ILMU DALAM PROSES KEILMUAN (Analisa Teori Paradigma Thomas Samuel Kuhn)
Filed under: Filsafat Barat by Alex Nanang Agus Sifa — Tinggalkan komentar Desember 12, 2010
Pendahuluan
Paradigma ilmu memiliki peranan penting bahkan sangat penting dalam proses keilmuan. Paradigma ilmu berfungsi memberikan kerangka, mengarahkan, bahkan menguji konsistensi dari proses keilmuan. Tidak hanya itu, paradigma ilmu juga berfungsi sebagai lensa yang melaluinya para ilmuan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut. Oleh karena itu, paradigma merupakan aspek yang begitu penting “urgent” dalam proses keilmuan.
Definisi Paradigma Secara Umum
Ali mudhafir dalam kamus istilah filsafat menuliskan beberapa pengertian/definisi tentang paradigma diantaranya adalah pendapat dari Friedrichs Robert yang menjelaskan bahwa “paradigma adalah suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalannya.
Jadi, paradigma secara umum juga bisa diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada kehidupan sehari-hari. Atau dengan ibarat lain paradigma merupakan sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (worl-dview).
Definisi Paradigma menurut Thomas Samuel Kuhn
Paradigma menurut Thomas Samuel Kuhn adalah:
Paradigma-paradigma adalah cara-cara meninjau benda-benda, asumsi yang dipakai bersama yang mengandung pandangan dari suatu zaman dan pendekatannya atas masalah-masalah ilmiah. Istilah paradigma dalam artian teknis tersebut bertalian dengan filsafat ilmu. Kemudian istilah disciplinary matrix dipakai lebih mendekati arti di atas, dan paradigma menjadi bentuk-bentuk yang baku bagi pemecahan masalah. Kemudian pemecahan-pemecahan ini dipakai untuk memecahkan masalah selanjutnyadan dengan demikian mengatur bentuk-bentuk pemecahan lebih lanjut. Pergeseran paradigma berkembang sebagaimana perkembangan ilmu. Kebanyakan paradigma tidak bisa didefinisikan, tetapi merupakan cita-cita konseptual yang memberi tahu dan mengilhami suatu pemikitan dari suatu masyarakat tertentu, mengarahkan perhatian-perhatiannya, dan menentukan macam kesadaran yang kuat akan bentuk objektivitas bagi masyarakat tertentu.
Thomas Samuel Kuhn memakai istilah “paradigma” untuk menggambarkan system keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu. Dengan memakai istilah paradigma, ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk di dalamnya hukum, teori, aplikasi dan instrumentasi yang menyediakan model-model, yang menjadi sumber konsistensi tradisi riset ilmiah tertentu. Menurutnya, paradigma sebagai seperangkat keyakinan mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita, baik tindakan keseharian maupun dalam penyelidikan ilmiah. Selanjutnya ia mengartikannya sebagai (a) A set of assumption and (b) beliefs concerning; yaitu asumsi yang dianggap benar (secara given). Untuk dapat sampai pada asumsi harus ada perlakuan empirik (melalui pengamatan yang tidak terbantahkan (accepted assume to be a true). Dengan demikian paradigma dapat dikatakan sebagai a mental a window, tempat terdapat “frame” yang tidak perlu dibuktikan kebenarannya karena masyarakat pendukung paradigma telah memiliki kepercayaan atasnya.
Dari kutipan-kutipan di atas dapat dipahami bahwa makna pokok paradigma adalah pandangan fundamental atau pandangan mendasar yang menjadi asumsi dasar dan sekaligus aturan maun dalam suatu disiplin ilmu. Pandangan mendasar itu diperoleh dari kesatuan consensus dalam satu disiplin ilmu tertentu. Secara umum paradigma ilmu pengetahuan modern atau sains adalah objektivitas dan rasional. Sesuatu disebut ilmiah, kalau memiliki sifat obyektivitas dan rasionaltas. Jika tidak memiliki persyaratan itu, maka secara paradigmatik, ia bukan ilmu pengetahuan ilmuah. Secara khusus, paradigma obyektif dan tasional ini berkembang, dalan berbagai disiplin, bidang, dan aliran-aliran dalam ilmu pengetahuan modern.
Pertanyaan Fundamental Proses Keilmuan dalam Paradigma Ilmu
Paradigma ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia, yaitu bagaimana, apa dan untuk apa. Tiga pertanyaan mendasar itu kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi, yaitu: a). Dimensi ontologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah, apa sebenarnya hakikat dari suatu yang dapat diketahui (knowable), atau sebenarnya apa hakikat dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata (what is nature of reality?. b). Dimensi epistimologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah, apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan objek yang ditemukan know/knowable?. c). Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran nilai-nilai dalam suatu kegiatan penelitian. d). Dimensi retorik, yang dipermasalahkan adalah bahasa yang dipergunakan dalam penelitian. e). Dimensi metodologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah, bagaimana cara atau metodologi yang dipakai seseorang dalam menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan?. Jawaban terhadap kelima dimensi pertanyaan ini, akan menemukan posisi paradigma ilmu untuk menentukan paradigma apa yang akan dikembangkan seseotang dalam kegiatan keilmuan.
Paradigma dan konstruksi komunitas ilmiah
Thomas Samuel Kuhn dalam bukunya The structure of scientific Refolutions menyatakan bahwa para ilmuwan bukanlah para penjelajah berwatak pemberani yang menemukan kebenaran-kebenaran baru. Mereka lebih mirip pemecah teka-teki yang bekerja dalam pandangan duniayang sudah mapan. Kuhn memakai istilah “paradigma” untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasati upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu. Dengan memakai istilah paradigma, dia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk di dalamnya hukum, teori, aplikasi dan instrumentasi yang menyediakan model-model, yang mendasari sumber kosnsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu.
Pandangan Thomas Samuel Kuhn ini telah membuat dirinya tampil sebagai prototipe pemikir yang mendobrak keyakinan para ilmuwan yang bersifat positivistik. Para ilmuwan yang bersifat positivistik ini kurang begitu berminat untuk melihat faktor historis yang ikut berperan dalam aplikasi hukum-hukum yang dianggap sebagai universal. Fokus pemikiran Thomas Samuel Kuhn ini memang menentang pendapat golongan realis yang mengatakan bahwa sains-disika dalam sejarahnya berkembang melalui pengumpulan fakta-fakta bebas konteks. Sebaliknya dia menyatakan bahwa perkembangan sains berlaku melalui apa yang disebut paradigma ilmu. Menurut Thomas Samuel Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia (worldview) nya. Paradigma ilmu berfungsi sebagai lensa yang melaluinya ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masing-masing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut.
Thomas Samuel Kuhn menamakan sekumpulan ilmuwan yang telah memilih pandangan bersama tentang alam (yakni paradigma ilmu bersama) sebagai suatu “komunitas ilmiah”. Istilah komunitas ilmiah bukan berarti sekumpulan ilmuwan yang bekerja dalam suatu tempat. Suatu komunitas ilmiah yang memiliki suatu paradigma bersama tentang alam ilmiah, memiliki kesamaan bahasa, nilai-nilai, asumsi-asumsi, tujuan-tujuan, norma-norma dan kepercayaan-kepercayaan. Jadi menurut Thomas Samuel Kuhn , paradigmalah yang menentukan jenis-jenis eksperimen yang dilakukan para ilmuwan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan dan masalah yang mereka anggap penting.
Antara Value-Neutral Dan Value-Laden
Paradigma ilmu tidaklah lebih dari suatu konstruksi segenap komunitas ilmiah, yang dengannya mereka membaca, menafsirkan, mengungkap dan memahami alam. Berdasarkan bukti-bukti dari sejarah ilmu, Kuhn menyimpulkan bahwa faktor historis yakni faktor nonmatematis-posivistik, merupakan faktor pernting dalam bangunan paradigma keilmuan secara utuh. Temuan Kuhn ini, dengan begitu, memperkuat alur pemikiran bahwa sains bukannya value-neutral, seperti yang terjadi dalam pemecahan persoalan-persolan matematis, tetapi sebaliknya ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah value laden, yang erat terkait dengan nilai-nilai sosio kultural, nilai-nilai budaya, pertimbangan politik praktis dan sebagainya. Atas panadangannya yang meyakini bahwa ilmu memiliki keterkaitan dengan faktor subjektivitas, dalam arti kontruksi sosio kultural dari komunitas ilmiah yang berwujud paradigma ilmu, filsafat ilmu Kuhn disebut oleh kalangan poeitiv sebagai psychology of discovery, yang dibedakan dengan logic of discovery sebagaimana pandangan positif.
Pendapat Thomas Samuel Kuhn ini juga ditegaskan dalam bukunya Suparlan Suhartono, Filsafat Ilmu Pengetahuan yang menyatakan bahwa “Pada dasarnya ilmu perngetahuan itu sendiri tidak bebas nilai. Artinya, ia tergantung kepada pelaku atau subjek yang mengendarainya.” Hal senada juga disampaikan oleh Muhammad Nuquib Al-Attas dalam bukunya Islam and Secularism “ilmu bukan bebas nilai (value-free), tetapi syarat nilai (value-laden). Ilmu bisa dijadikan alat yang sangat halus dan tajam bagi menyebarluaskan cara dan pandangan hidup suatu kebudayaan.
Proses Perkembangan Ilmu
Proses perkembangan ilmu pengetahuan manusia menurut Thomas Samuel Kuhn tidak dapat terlepas sama sekali dari apa yang disebut keadaan-“normal science” dan “revolutionary science”. Menurutnya ada empat tahap dalam proses perkembangan ilmu. Pertama, sains normal (normal science), dalam wilayah ini semua ilmu pengetahuan telah tertulis dalam textbook. Para komunitas ilmiah pada keadaan ini telah terbiasa memecahkan persoalan lewat cara-cara yang biasa berlaku secara konvensional, cara-cara standar, cara-cara yang sudah terbakukan dan mapan.
Kedua, keganjilan-keganjilan (anomalies), tahapan ini merupakan titik awal dari adanya tahapan berikutnya (revolutionary science). Dalam tahapan ini ditemukan berbagai macam keganjilan-keganjilan. keganjilan-keganjilan ini disebabkan karena adanya banyak persoalan yang tidak dapat terselesaikan. Keadaan yang seperti ini juga seringkali tidak dirasakan bahkan tidak diketahui oleh para pelaksana di lapangan. Hal ini disebabkan karena komunitas ilmiah terkurung oleh rutinitas pada wilayah normal science serta mereka tidak menyadari akan adanya keganjilan-keganjilan (anomalies).
Ketiga, krisis, keadan krisis merupakan suatu mekanisme koreksi diri yang memastikan bahwa kekakuan pada sains normal tidak akan berkelanjutan. Keadaan yang seperti ini muncul ketika suatu komunitas ilmiah mulai mempersoalkan kesempurnaan paradigmanya. Dengan demikian para komunitas ilmiah akan mencari jawaban paradigma mana yang membolehkan mereka menyelesaikan teka teki dengan berhasil.
Keempat, revolusi sains (revolutionary science), tahapan ini terjadi ketika suatu komunitas ilmiah dapat menyelesaikan krisisnya dengan menyusun diri di sekeliling paradigma baru. Bila suatu komunitas ilmiah menyusun diri kembali di sekeliling suatu paradigma baru, maka ia memilih nilai-nilai, norma-norma, asumsi-asumsi, bahasa-bahasa dan cara-cara mengamati dan memahami alam ilmiahnya dengan cara baru. Inilah proses pergeseran paradigma (shifting paradigm) terjadi, yakni suatu proses dari keadaan normal science ke wilayah “revolutionary science”. jadi menurut Thomas Samuel Kuhn, ilmu berkembang melalui siklus-siklus: sains normal diikuti oleh revolusi yang diikuti lagi oleh sains normal dan kemudian diikuti lagi oleh revolusi. Setiap paradigma bisa menghasilkan karya khusus yang menentukan dan membentuk paradigma.
PENUTUP
Dengan melalui paradigma ilmu, maka sains dapat berkembang. Dan dengannya pula suatu komunitas ilmiah dapat memberikan suatu gambaran tentang bagaimana seharusnya-sepatutnya-bentuk dunia ilmiah mereka. Tidak hanya itu, ketika terjadi keganjilan-keganjilan (anomalies) bahkan sampai ke wilayah krisis, suatu komunitas ilmiah juga dapat menyelesaikan keadaan krisisnya tersebut dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigma baru, maka terjadilah apa yang disebut Thomas Samuel Kuhn dengan revolusi sains (revolutionary sains). Yang mana revolusi sains tersebut dimulai dan diikuti oleh sains normal (normal science). Proses dari keadaan sains normal ke wilayah revolusi sains itu kemudian disebut dengan pergeseran paradigma (shifting paradigm). Jadi perkembangan ilmu itu tidak disebabkan oleh dikuatkan atau dibatalkannya suatu teori, tetapi lebih disebabkan oleh adanya pergeseran paradigma (shifting paradigm). Dan perkembangan ilmiah tersebut lebih bersifat revolusioner bukan evolusi/akumulatif. Oleh karena itu, temuan Thomas Samuel Kuhn ini memperkuat alur pemikiran bahwa sains bukan bersifat value neutral tetapi value laden.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Attas, Muhammad Nuquib, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993)
Bagus, Lorens, Kamus Filsafat (Jakarta: PT Gramedia, 2005, cet ke-4)
Hardirman, F. Budi, Filsafat Modern; dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007, cet ke-2)
Mudhafir, Ali, Kamus Istilah Filsafat, (Yogyakarta: Liberty, 1992, cet ke-1),
Muslih, Muhammad Filsafat Ilmu; Kajian Atas Asumsi Dasar Paradigma Dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2008, Cet Ke-5)
Suhartono, Suparlan, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jogjakarta: Ar-Ruz, 2005, cet ke-1)
Dari Internet
http://plato.stanford.edu/entries/thomas-kuhn/
http://www.amazon.com/Structure-Scientific-Revolutions-Thomas Kuhn/dp/ 2645808
http://tech.mit.edu/V116/N28/kuhn.28n.html
http://www.protestants-online.net/phorum/read.php?f=3&i=9&t=9
Oleh: Alex Nanang Agus Sifa (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Program Studi Aqidah Filsafat Gontor)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar