Sabtu, 22 Oktober 2011

Kepemimipinan Visioner dan transformator

KEPEMIMPINAN VISIONER DAN TRANSFORMASIONAL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Globalisasi menuntut manusia semakin maju dan berkembang untuk mengimbangi derasnya pertumbuhan ekonomi dan teknologi. Dunia bisnis, birokrasi, pendidikan dan kesejahteraan akan semakin sulit mengimbanginya jika tidak mempunyai sesuatu yang lebih baru, dan inovatif. Dalam bidang ekonomi berbasis pendidikan, ide-ide inovatif dan capital intelektual merupakan kunci khusus dalam terwujudnya pertumbuhan ekonomi dan persaingan global. Oleh karena itu., setiap perusahaan membutuhkan pekerja yang berpendidikan tinggi untuk mengimbangi segala kebutuhan perusahaan tersebut. Perusahaan juga membutuhkan pekerja memahami konsep-konsep baru, mengaplikasikan dan memadukan dengan konsep yang lainnya.
Refleksi dari keadaan ini harus segera ditangani oleh seorang pemimpin yang mempunyai visi kedepan. John P Kotter (dalam Sudjarwadi, 2003) menyebut empat penyebab utama yang memaksa organisasi untuk berubah. Keempat faktor tersebut adalah: perubahan teknologi, integrasi ekonomi internasional., kejenuhan pasar di negara-negara maju serta jatuhnya rezim komunis dan sosialis. Faktor-faktor ini merupakan indikasi awal dari sebuah perubahan zaman dengan mobilitas yang tinggi.

Pepatah lama mengatakan bahwa cara untuk memprediksi masa depan adalah dengan cara menciptakannya. Sampai saat ini, tidak banyak manajer yang berfikir mengenai masa depan walaupun ada, mereka melakukan dengan orientasi jangka pendek, contohnya merencanakan keuntungan perusahaan tahun depan. Kurangnya pemikiran strategis jangka panjang dapat berdampak pada perkembangan perusahaan karena tujuan-tujuan jangka pendek dan pembukaan pasar untuk mencapai keuntungan mungkin tidak akan bisa mengimbangi konsep dasar kekuasaan masa depan. Visi dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang ingin dicapai secara ideal dari seluruh aktivitas. Visi juga dapat diartikan sebagai gambaran mental tentang sesuatu yang ingin dicapai di masa depan. Visi adalah wawasan ke depan yang ingin dicapai dalam kurun tertentu. Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan global, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi dunia pendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenaga pendidik dari mncanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar global maka kebijakan pendidikan nasional harus meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik, dan mememperbaiki manajemen pendidikan agar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Dalam Undang-Undang RI nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebut bahwa pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Secara makro pendidikan nasional berjalan membentuk organisasi pendidikan yang bersifat otonom sehingga mampu mlakukan inovasi dalm pendidikan untuk menuju suatu lembaga yang beretika, selalu menggunakan nalar, berkemapuan komunikasi sosial yang positif dan memiliki sumber daya manusia yang sehat dan tangguh. Sedangkan secara mikro pendidikan nasional membentuk manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beretika (beradab dan berwawasan budaya bangsa Indonesia), memiliki nalar (maju, cakap, cerdas, inovatif, dan bertanggung jawab), berkemampuan komunikasi sosial (tertib dan sadar hukum, kooperatif dan kompetitif, demokratis), dan berbadan sehat sehingga menjadi manusia mandiri.
Mewujudkan tujuan pendidikan tersebut dibutuhkan peran yang kuat dari seorang pemimpin lembaga pendidikan, dimana fungsi kepemimpinan tersebut merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, pinpinan lembaga yang dipimpin melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikannya. Globalisasi cenderung memberikan pengaruh yang penting terhadap sifat kepemimpinan dalam semua bidang kegiatan tidak terkecali bidang pendidikan. Sementara pemimpin lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar dalam menyediakan kepemimpinan profesi yang efektif berkaitan dengan hal-hal pndidikan yang spesifik, termasuk proses belajar mengajar, dan juga menyediakan kepemimpinan organisasi yang efektif, mengacu kepada menajemen staf, sumber daya keuangan dan barang dan hubungan eksternal.
Bagaiamanapun., pengakuan terhadap pentingnya kualitas kepemimpinan pada level lembaga kependidikan meningkat dengan tujuan untuk mencapai efektifitas lembaga pendidikan dan penelitian pengembangan yang dilakukan pada lingkungan lembaga pendidikan sebagai bagian pencapaian visi dan misi yang diemban oleh lembaga pendidikan iu sendiri.
Makalah ini, mencoba memamparkan konsep sistem pendidikan yang didasarkan pada konsep kepemimpinan visioner dan tranformasional serta upaya yang dilakukan untuk menuju pendidikan yang diharapkan berdasarkan kedua konsep kepemimpinan tesebut.
Pandangan terhadap pendidikan sebagai investasi secara mendasar berawal dari pandangan keluarga terhadap hal tersebut. Apabila keluarga telah meyakini bahwa pendidikan merupakan investasi maka mereka akan mempersiapkan anak-anak mereka dengan segala daya dukungannya untuk memperoleh pengalaman pendidikan secara optimal. Selain itu, dukungan dari para pelaku ekonomi yang memandang pendidikan sebagai investasi akan memberikan konstribusi terhadap terwujudnya program-program pendidikan dan latihan yang memungkinkan tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas dari segi pengetahuan dan keterampilan, yang ada akhirnya meningkatkan penghasilan dan produktivitas baik pribadi maupun sosial, temasuk pada perusahaan sebagai pelaku ekonomi yang memanfaatkan SDM hasil pendidikan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan penerapan di atas, maka makalah ini akan membahas faktor-faktor apa saja yang mendukung kepemimpinan transformasional dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
1.3 Identifikasi Masalah
Masalah yang dikaji dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana peran pemimpin transformasional dalam meningkatkan kulitas lembaga pendidikan?
2. Apa metode pengambilan keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin transformasional dalam meningkatkan kulitas pendidikan?
3. Bagaimana pengaruh-pengaruh kelompok dalam pengambilan keputusan?
1.4 Prosedur Pemecahan Masalah
1. Penelaahan data dan fakta mengenai kepemimpinan tranformasional kualitas pendidikan, dan metode pengambilan keputusan.
2. Kajian pustaka dari berbagai sumber
3. Pembuatan makalah yang terkait dengan konsep kepemimpinan transformasional, kualitas pendidikan, serta metoda-metoda pengambilan keputusan.
BAB II
ISI KAJIAN
2.1 Kepemimpinan
2.1.1 Pengertian Kepemimpinan
Bebagai pendapat dan definisi kepemimpinan muncul, sesuai dengan dari segi apa orang memandang segi kepemimpinan tersebut. Kepemimpinan dapat diartikan sebagai sifat-sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan kerja sama antar peran, kedudukan dari suatu jabatan administrative, dan presepsi lain-lain tentang legitimasi pengaruh (Wahjosumijo, 1999). Menurut Richad Hull (1999:135), Kepemipinan adalah kemapuan mempengaruhi pendapat, sikap dan perilaku orang lain. Hal ini berarti bahwa setiap orang mampu mengatur dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan dapat berfungsi sebagai pemimpin. Kepemimpinan (leadership) merupakan proses yang harus ada dan perlu diadakan dalam kehidupan manusia selaku makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup bermasyarakat sesuai kodratnya bila mereka melepaskan diri dari ketergantungannya pada orang lain. Hidup bermasyarakat memerlukan pemimpin dan kepemimpinan. Kepemimpinan dapat menentukan arah atau tujuan yang dikehendaki, dan dengan cara bagaimna arah atau tujuan tersebut dapat dicapai.
Kepemimpinan seseorang berperan berbagai pengerak dalam proses kerja sama antara manusia dalam organisasi termasuk sekolah. Untuk lebih jelas di bawah ini akan diuraikan mengenai pengertian tentang kepemimpinan. Menurut Paul Heresay dan Keneth H. Blanchard yand dikutip oleh Pandji Anoragan dalam bukunya Perilaku Keorganisasian, pemimpin adalah orang yang dapat mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu “(Pandji Anoraga, 1995:186). Menurut Martin J. Gannon, sebagaimana dikutip oleh Pandji Anoraga, pemimpin adalah seorang atasan yang mempengaruhi perilaku bawahannya” Sedangkan menurut Kartini Kartono (1998:84), pemimpin adalah pribadi yang memiliki kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya, untuk melakukan usaha bersama mengarah pada pencapaian saran-saran tertentu.”
Dari definisi di atas jelas bahwa, seorang pemimpin adalah orang yang memiliki posisi tertentu dalam hirarki organisasi. Ia harus membuat perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan serta keputusan efektif. Pemimpin selalu melibatkan orang lain, Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dimana ada pemimpin maka disana ada pengikut yang harus dapat mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan. Jadi kepemimpinan itu akan terjadi dalam situasi tertentu seseorang mempengaruhi perilaku orang lain. Kepemimpinan seseorang berperan sebagai penggerak dalam proses kerja sama antar manusia dalam organisasi termasuk sekolah. Berdasarkan pemikiran ini, maka harus dibedakan antara kepemimpinan dan manajemen. R.D. Agarwal sebagaimana dikutip Pandji Anoraga (1995:186)mengatakan bahwa kepemimpinan adalah “seni mempengaruhi orang lain untuk mengarahkan kemauan mereka”. Kemampuan dan usaha untuk mencapai tujuan pemimpin. Kepemimpinan menurut Hall digambarkan seperti suatu pemecahan yang sangat mudah terhadap gejala masalah dalam berorganisasi. Dengan kata lain tujuan kepemimpinan adalah mempengaruhi organisasi lain, dalam hal ini karyawan atau bawahan untuk mencapai misi perusahaan/organisasi.
Kemampauan untuk mempengaruhi orang lain merupakan inti dari kepemimpinan sedang untuk mempengaruhi orang lain, pemimpin perlu mengetahui beberapa strategi antara lain : (a) Menggunakan fakta dan data untuk mengemukakan dan alasan yang logis, (b) Besikap bersahabat dan mendukung upaya yang ada dalam perusahaan, (c) Memobilisasi atau mengaktifkan orng lain untuk melaksanakan pekerjaan, (d) melakukan negosiasi, (e) Menggunakan pendekatan langsung dan kalau terpaksa menggunakan kedudukan lebih tinggi dalam organisasi, dan (f) memberikan sanksi dan hukuman terhadap perilaku yang menyimpang. Sehubungan dengan yang telah diuraikan di atas jelas bahwa, kemampuan meminpin dan ketaatan pada pemimpin lebih banyak didasarkan pada gaya kepemimpinan yang ditunjukkan kepada pemimpin itu sendiri.
Agar tidak terdapat kesalahpahaman dalam membicarakan tentang kepemimpinan, maka tidak dapat dilepas dari perilaku dan gaya kepemimpinan, ini merupakan suplemen untuk melihat hakikat kepemimpinan itu sendiri; dimana dalam penelitian ini akan mengulas tentang kepemimpinan kepala sekolah. Dengan mengetahui perilaku dan gaya kepemimpinan kepala sekolah. Dengan mengetahui perilaku dan gaya kepemimpinan kepala sekolah akan dapat diuraikan tentang hakikat kepemimpinan kepala sekolah. Pada dasarnya para pemimpin menerapkan “pertama, otokratis (otoriter) adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditentuakan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan diputuskan oleh pemimpin semata-mata. Atau dengan kata lain pemimpin-pemimpin yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya pemberi perintah dan mengharuskan orang lain mematuhinya. Berdasarkan uraian diatas jelas bahwa, ciri kepemimpinan gaya otoriter tersebut adalah memberikan instruksi secara pasti, menuntut kerelaan, menekan pelaksanaan tugas, melakukan pengawasan tertutup, bawahan tidak dapat mempengaruhi keputusan pemimpin, bawahan tidak memberikan saran.
2.1.2 Sifat Kepemimpinan
Sehubungan dengan kedudukan dan peranan kepemimpinan yang strategis, maka agar kepemipinan yang bersangkutan mampu bekerja secara maksimal sangatlah dibutuhkan sifat-sifat atau kemampuan tertentu dari diri pemimpin yang bersangkutan. Iskandar menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu: memiliki empati yang tinggi; merupakan anggota dari kelompok; penuh pertimbangan, kebijaksanaan dan arif; lincah dan bergembira, baik dalam suka maupun duka; memiliki emosi yang stabil; memiliki keinginan dan ambisi untuk memimpin; memiliki kompetensi; memiliki intelegensi yang cukup; konsisten dan sikapnya dapat diramalkan; memiliki kemampuan untuk berbagi kepentingan dengan anggota yang lain (Iskandar Jusman, 1999)
Seorang pemimpin harus menjadi pusat komunikasi, untuk dapat menyampaikan pikiran dan keinginannya kepada sekitarnya, namun juga sensitive/peka untuk menerima semua informasi dari lingkungannya. Sebab, jika seorang pemimpin mau memaksakan pikiran dan ide-ide sendiri saja, dan tidak peka terhadap isyarat-isyarat yang diberikan oleh lingkungan, maka tidak ubahnya dia itu bertingkah laku sebagai pemain orkes tunggal yang diktatoris dan otokratis. Dan pemimpin yang seperti itu menganggap dirinya paling super dalam segala hal. Dia dihormati lingkungannya, mengikuti sesama dan para pengikutnya pandai dalam bertimbang rasa, selau bersikap rendah hati, luwes, terbuka dan reseptif tanpa dibebani perasaan-perasaan superior yang bisa membuat dirinya menjadi angkuh dan sewenang-wenang terhadap lingkungannya.
2.1.3 Tipe-tipe dan Pendekatan Kepemimpinan
Sebagian (1999:27) mengemukakan tipe-tipe kepemimpinan yaitu :
a. Tipe Otokratik. Kepemimpinan itu berdasarkan dirinya pada kekuasaan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pemimpinnya harus berperan sebagai pemain tunggal pada “a one man show”.
b. Tipe Paternalistic, yaitu tipe gaya kebapaan, dengan sifat-sifat antara lain: menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa; besikap selalu melindungi; jarang memberikan kesempatan pada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri; hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreatifnya; mersa dirinya tahu segalanya.
c. Tipe Laissez Faire, yaitu seorang pemimpin yang praktis tidak memimpin, sebab dia membiarkan kelompoknya berbuat semaunya.
d. Tipe Demokratik, yaitu pemimpin yang memberikan bimbingan yang efisien kepada bawahannya, dengan penekanan rasa tanggung jawab internal dan kebijakan yang baik.
2.1.4 Kepemimipinan Pendidikan
Seperti telah diuraikan di atas, kepemimpinan adalah merupakan proses kegiatan membingbing dan mempengaruhi hubungan aktivitas-aktivitas pekerjaan dari suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Tampak disini bahwa ada tiga butir implikasi yang sangat penting diperhatikan, yaitu, 1) adanya bawahaan atau pengikut, 2) adanya distribusi, 3) adanya pengaruh atasan kepada bawahaan. Dengan menyebut kepemimpinan kepal sekolah maka akan tampak cirri-ciri khas kepemimpinan dari kepala sekolah. Cirri-ciri khas tersebut meliputi adanya faktor layanan, bimbingan, mendidik, mengemong terhadap guru-guru oada sekolah yang dipimpnnya.
Kepemimpinan kependidikan sendiri didefinisikan sebagai satu kemampuan dan proses mempengaruhi, membingbing, mengkoordinasi, dan menggerakan orang lain yang ada hubungan drngan pengembangkan ilmu pendidikan, dan pelaksanaan pendidikan dan mengajar agar kegiatan-kegiatan dijalankan lebih efisien dan efektif didalam pencapaian tujuan “pendidikan dan pengajaran” (Sukarto . 1984:45) kepla sekolah/Sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan, kepla sekolah mempunyai peranan dan fungsi yang penting dalam pelaksanaan program pedidikan sekolah.
Bagaimanakah jenis kepemimpinan yang diperlukan sekolah saat ini ? Menurut Sutisna (1983:277) “jenis kepemimpinan institusional” hal ini dimaksudkan bahwa kepemimpinan seperti ini bisa menjawab tantangan yang berhubungan dengan pembaharuan pendidikan yang sedang dijalankan pemerintah. Lebih lanjut ia mengemukakan, bahwa kepala sekolah lebih dari seorang manajer organisasi, tetapi ia terlibat dalam penentuan tujuan, cara maupun proses. Ia menjalankan peranan yang bertanggung jawab dalam perumusan maupun pelaksanaan kebijaksanaan pendidikan di sekolah.
Bertolak dari uraian di atas, maka kepemimpinan kepala sekolah yang dimaksud adalah perilaku kepala sekolah dalam melaksanakan pengarahan, pengawasan, pemberian motivasi kepada guru, serta berkomunikasi dengan guru dalam melaksnakan tugas menurut persepsi mereka. Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan dimensi dan indikator persepsi guru terhadap kepemimpinan kepala sekolah, sebagai berikut (1) interpretasi atau pemahaman guru terhadap kepemimpinan kepela sekolah, meliputi: pendapat guru terhadap kepemimpinan, kemauan diri dalam memimpin, berhubungan dan berkomunikasi dengan guru serta peran kepala sekolah sebagai seorang pemimpin. Dengan demikian berarti, kepala sekolah harus berusaha memaksimalkan kepemimpinannya guna mempengaruhi para guru untuk melakukan usaha dengan keras dan antusias dalam mencapai tujuan sekolah. Dengan kata lain guru besedia menggunakan kemampuan dan profesionalisasi daam bekerja untuk mencapai kinerja yang diharapkan, sehingga dengan loyalitas yang tinggi didapatkan kualitas pendidikan yang diharapkan.
2.2 Kepemimpinan Transformasional
Bangsa ini perlu di arahkan oleh suatu kepemimpinan transformasional,yaitu suaktu karakter kepemimpinan yang berorientasi pada perubahan pada tataran nilai. Kepemimpinan akan mampu mengajak publik untuk secara teguh menghadapi tujuan-tujuan yang lebih hakiki ketimbang sekadar pemenuhan kepentingan jangka pendek. Pemimpin transformasional untuk secara inspirasional memvisualisasikan bentuk masyarakat baru yang ingin dicapai. Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menggerakkan setiap individu untuk menjadi aktor utama proses perubahan. Pemimpin transformasional merupakan modifikasi dari pemimpin karismatik. dengan kata lain, semua pemimpin transformasional adalah pemimpin karismatik, namun tidak semua pemimpin karismatik adalah pemimpin trasformasional, pemimpin transformasional memiliki karakter yang karismatik karena mereka mampu untuk membangun ikatan emosional yang kuat dengan publik untuk mencapai tujuan tertentu. Namun, bagi pemimpin transformasional, ikatan yang dibangun dengan publik lebih bersifat kesamaan system nilai ketimbang loyalitas personal (Huges 2001). Manakala para pemimpin karismatik kerap terjebak pada pemusatan ambisi yang kemudian justru mengerdilkan arti kepemimpinan mereka, pemimpin transformasional memberikan kontribusi subtantif dengan keberhasilan mendobrak kultur lama dan merintis tatanan nilai baru. Namun penting untuk disadari bahwa tmpilnya para pemimpin dengan kualitas seperti itu ke panggung utama bukanlah melalui proses yang instant, namun melalui penitian karir secara berjenjang dan melalui proses yang berliku.
Perhatian peran kepeminpianan di dalam proses manajemen perubahan mulai muncul, pada waktu orang mulai menyadari bahwa pendekatan mekanistik yangselama ini digunakan untuk menjelaskan fenomena perubahan itu, kerap kali bertentangan dengan angggapan orang bahwa perubahan itu justru untuk menjadikan tempat kerja itu menjadi lebih manusiawi, sehingga dalam merumuskan proses perubahan biasanya dipergunakan pendekatan transformasional dimana lingkungan kerja yang pratisatif, peluang untuk mengembangkan kepribadian, dan keterbukaan, dianggap sebagai proses yang melatar belakangi proses tersebut. Namun di dalam praktek, proses perubahan itu dijalankan dengan bertumpu pada pendekatan transaksional yang bersifat teknikal, dimana manusia cendrung dipandang sebagai entiti ekonomik yang siap diamanipulasikan dengan menggunakan system imbalan dan umpan balik negative, dalam rangka mencapai manfaat ekonomis yang sebesar-besarnya (Bass, 1990; Bass dan Avilio, 1990; Hatter dan Basss, 1988 di dalam Yull 1994). Sementara Burns (1987) menjelaskan bahwa kepemimpinan transformasional sebagai suatu proses di mana para pemimpin dan pengikut saling menaikan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinngi.
Dengan demikian pemimpin transformasional dapat meningkatkan kesadaran bawahnya akan tata nilai yang memiliki orde lebih tinggi, seperti kebebasan, keadilan, dan kebersamaan. Pemimpin disebut tranformasional diukur dalam hubungan dengan rasa kepercayaan, kekaguman, kesetiaaan, dan hormat para pengikut terjhadap pemimpin tersebut. Pemimpin mentransformasi dan memotivasi para pengikut dengan: [1] membuat mereka lebih sadar akan pentingnya suatu pekerjaan, [2] mendorong mereka lebih mendahlukan organisai atau tim dari pada kepentingan dirinya, dan [3] mengaktifkan kebutuhan mereka pada yang lebih tinggi.
Kepemimpinan tranformatif meningkatkan kesadaran para pengikutnya dengan menarik cita-cita dan nila-nilai seperti, keadilan (justice), kedamaian (peace) dan persamaan (equality) (Sarros dan Satonsa, 2001). Tipe leadership ini mendorong para pengikutnya (individu-individu dalam satu institusi) untuk menghabiskan upaya ekstra dan mencapai apa yang mereka anggap mungkin (Arnold, Barling dan Kelloway, 2001). Transformasional leadership terdiri dari individualized consideration, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan idealized infulence (Sarros dan Santosa, 2001; Pounder, 2003).
• Idealized influence atau charisma. Para pemimpin menyediakan visi dan pengertian terhadap misi, memasukan kebanggan, memperoleh rasa hormat, kepercayan dan meningkatkan optimisme. Pemimpin seperti ini meningkatkan optimisme. Pemimpin seperti ini meningkatkan kegairahan dan dan menginspirasi para bawahannya. Sub-dimensi ini mengukur tingkat kekaguman dan kebanggan para pengikutnya.
• Individualiced onsideration. Para leader memberiakan peltihan dan menotoring, menyediakan umpn balik berkeseinbungan dan menghubungkan kebutuhan anggota organisasi ke misi organisasi. Subdimensi merupakan suatu alat ukur terhadap tingakat yang mana pemimpin memperhatikan apa yang menyadari concern dan kebutuhan yang berkaitan dengan pengembengang para indiviu pengikutnya.
• Inspiirtioanl motivational. Pemimpin bertindak sebagai sbuah model atau contoh (keteleadanaan) bagi para bawahanya, mengkomunikasi visi dan menggunkan symbol-symbol untuk mengfokuskan upaya-upaya yang dilakukan. Sub-dimensi ini mengukkur kemampuan pemimpin untuk menumbuhkan kepercayan (corfidence) terhadap visi dan nilai-nilai pemimpin.
• Inteelctuall situmultion . para pemimpin menstimulsi pengikutnya untuk memikirkan kembali cara atu metode kerja yang lama dan menilai kembali nilai-nilai dan keprcayaan merka yang lama. Dimensi ini berkenan denggan derajad dimana para pengikutnya disediakan tugas-tugas yang menentang dan didorong untuk memecahkan masalah dengn cara mereka sendiri. Kemudian pounder (2001; dalam Pounder, 2003) me-merinfe aspek tranformasional leadership yang dinyatakan secara implist pada aspek aslinya menjadi: inspirational motivation, integrity, innovation, impression management, individual consideration, dan intellectual stimulation. Pounder (2001; dalam 2003) memperlus sub-dimensi idealized influence dengan menambahkan tiga sub-dimensi lainnya, yaitu :
• Integriti pemimpin “work the talk”, mereka menyelaraskan perbuatan dengan perkataannya. Dimensi ini mengukur tingkat mana para pengkutnya mempersepsikan derajat kesesuaian yang tinggi antar perkataan dan yang diekspresikan dengan perbuatannya.
• Innovation. Para pemimpin dipersiapkan untuk menantang keterbatasan yang ada dan proses dengan pengmbilan resiko dan mengeksperimenkannya. Para pemimpin mendorong para bawahnya untuk mengmbil resiko dan bereksperimen dan memperluaskan kesalahan sebagai kesempatan untuk belajar dari pada diperlakukan sebagai celaan. Sub-dimensi ini fokus pada tingkat yang mana meminpin membutuhkan sebuah komitmen inovasi organisasi.
• Imreesion management. Pemimpin dipersiapkan untuk membawahi kebutuhan personal dan berhasrat untuk kebaikan umum. Pemimpin adalah orang “yang memberi” yang teliti untuk memberi selamat kepada keberhasilan bawahannya dan orang yang hangat dan perhatian terhadap bawahan tidak dibatasi pada kehidupan kerja mereka. Sub-dimensi ini mengukur tingkatan mana anggota organisasi mempersiapkan bahwa pemimpin mereka sebagai prinadi dibandingkan sekedar intrumen pemimpin atau misi organisasi.
2.2.1 Kepemimpinan Transformasional Terhadap Kepuasan Akan Kualitas Kehidupan Kerja
Kualitas kehidupan kerja mempengaruhi kinerja organisasi, sehingga dapat diartikan kinerja seseorang akan meningkat ketika kualitas kehidupan kerja dari individu berada pada posisi yang tinggi. Kualitas kehidupan kerja pada beberapa penelitian dihubungkan dengan kepemimpin, dimana kepemimpinan yang efektif akan selalu memberikan dampak dengan meningkatkan kualitas kehidupan kerja dari bawahanya. Podsakof et.al (1996), menunjukkan bahwa “kepemimpinan tranformasional memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan akan kualitas kehidupan kerja secara menyeluruh”. Kepemimpinan tranformasional mempunyai pengaruh signifikan dengan kepuasan akan kehidupan kerja secara menyeluruh”. Kepemimpinan transformasional mempunyai pengruh signifikan terhadap kualitas kehidupan kerja .
2.2.2 Kepemimpinan Transformasional Terhadap Komitmen Organisasi.
Secara orgnisasional komitmen karyawan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya memulai perilaku kepemimpinan, seperti yang dikemukakan oleh Su-Yung Fu (2000) bahwa “selain kepemimpinan tranformasional, hal lain yang penting dalam perilaku oganisasional adalah komitmen organisasi. Dalam tiga dekade terakhir, komitmen organisasi telah dipandang sebagai salah satu variabel yang paling penting dalam mempelajari manajemen dan perilaku organisasi”. Dalam kesempatan yang sama Yousef (2000) menggunakan bahwa terhadap hubungan secara positif antara perilaku kepemimpinan dengan komitmen organisasi. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan tranformasional memiliki pengaruh signifikan terhadap komitmen organisasi.
2.2.3 Kepemimpinan Tranformasional dan Perubahan
Kepemimpinan tranformasional dikhtisarkan oleh penyataan Tichy dan Ulrich, yaitu: “Apabila manjer transaksional hanya membuat penyesuaian-penyesuaian kecil pada misi, struktur dan manajemen sumber daya manusia, maka pemimpin transformasional tidak sekedar membongkar ketiga bidang ini namun juga mendorong perubahan besar-besaran pada sistem organisasi. Pembongkaran sistem inilah yang benar-benar menbedakan pemimpin transformasional dengan transaksional.”
Tranformasional diasosiasikan dengan inspirasi dan visi, kerjasama dan partipasi yang enerjik, rekanan dan transformasi perasaan sikap dan kepercayaan pengikut. Dengan penekanan pada pemeliharaan hubungan, kesatuan nilai dan tujuan dan pengembangan budaya institusional (Sechin, 1985). Bass & Avolio (1994) menyimpulkan karakteristik kepemimpinan transforamasional dalam hal, sebagai berikut;
• pengaruh ideal (pemimpin sebagai penentuan)
• Motivasi Inspirasional .
• Rangsangan Intelectual.
• Pertimbangan Individual (pemimpin sebagai pelatih dan mentor)
Penerimaan poin kebijaksanaan ditunjukkan untuk menimbulkan kepemimpinanan transformasional. Berdasarkan kepemimpinan transformasional sebagai model yang umum, tingkah laku global pemimpin telah dikemukakan dan dikaitkan dengan hasil positif. Bagaimanapun, ada hal yang perlu diperhatikan yaitu:
• Kepemimpinan tranformasional (bertentangan dengan konotasi etis yang dipertimbangan oleh Burns) telah menjadi alat manipulasi manajerial, ketimbang sarana untuk mencapai demokrasi yang sesungguhnya dan memberi semangat kepada yang lain (Allix, 2000);
• Konstuksi dari teori yang sangat abstrak sangat sulit untuk diperjelas melalui penelitian empiris
2.2.4 Lingkup Kepemimpinan Transformasional dalam Pendidikan
Teori kepemimpinan transformasional sebenarnya lebih dari pada model pendekatan dimana situasi perubahan bagian dari momentum transisi demokrasi, meskipun tidak semuanya sama secara teori dalam setiap situasi politik, akan tetapi bagian dari salah satu pendekatan diman situasi transisi yang yang membuka ruang publik terlibat di dalamnya. Gagasan awal model kepemimpinan ini dikembangkan oleh James McGregor Burns yang menerapkannya dalam konteks politik dan selanjutnya dikembangkan penerapannya ke dalam konteks organisasional oleh Benard Bass. Kepemimpinan model ini juga didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan suatu proses prtukaran (exchange process) diman para pengikut mendapat imbalan yang segera dan nyata untuk melakukan perintah-perintah pemimpin.
Oleh karena itu, model kepemimpinan transformasional justru adalah kepemimpinan yang dipertentangkan dengan kepemimpinan yang memelihara status quo. Model kepemimpinan transformasional inilah yang sungguh-sungguh bekerja menuju sasaran pada tingkatan mengarah organisasi kepada suatu tujuan yang tidak pernah ada sebelumnya. Para pemain secara rill harus mampu mengarahkan organisasi menuju arah yang baru. Dengan demikian model kepemimpinan transfomasional didefinisikan sebagai kepemimpinan yang melibatkan perubahan dalam organisasi. Kepemimpinan model ini membutuhkan tindakan lain memetovasi para bawhan agar bersedia kerja demi sasaran-sasaran “tingkat tinggi” yang dianggap melampaui kepentingan pribadinya saat itu.
Dengan model kepemimpinan transformasional dalam transisi demokrasi, seorang pemimpin bisa berhasil mengubah status quo dalam organisasinya dengan cara memperaktekkan perilaku yang sesuai dengan setiap tahapan transformasi. Apabila cara-cara lama dinilai sudah tidak lagi sesuai, maka sang pemimpin akan menyusun visi baru mengenai masa depan dengan fokus strategi dan sekaligus berfungsi sebagai sumber inspirasi dan komitmen. Secara demikian, acuan dimensi-dimensi perilaku kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai rujukan dimensi perilaku kepemimpinan yang menghasilkan keputusan dan kebijakan terhadap bawahannya, yang merupkan cermin dari unsur-unsur kharisma, kepekaan terhadap keunikan ndividu, dan oreantasi stimulasi intelektual.
Pola kepemimpinan transformasional dalam transisi demokrasi dalam kegiatan sehari-hari dapat diimplementasikan melalui perilaku yang mencerminkan sikap-sikap dari tiga unsur yakni charisma, kepekaan individu, dan stimulasi intelektual. Kegagalan pemimpin kita karena kurangnya kepekaan dalam merespon. Hal-hal yang kecil dalam masyarakat, bukan hanya presiden yang harus menggunakan pendekatan transformasi kepemimpinan akan tetapi juga kabinetnya, juga harus lebih peka terhadap setiap bagian kehidupan rakyat. Kalau presiden mampu membaca dan melakukan hal-hal yang tepat, persoalan yang membebankan rakyat dapat lebih berkurang dan rakyat mudah mengangkat sebagai pemimpin yang efektif dan memuaskan. Berdasarkan hasil kajian literature yang dilakukan, Nortthouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menmpilkan kepemimpinnan transformasional ternyata dapat lebih menunjukkan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para pemimpin lembaga pendidikan dapat menerapkan kepemimpinan transformasional di lembaga pendidikannya. karena kepemimpinan tranformasional merupakan sebuah rentang yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan, maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin tranformasinal yang efektif membutuhkan suatu proses dan memerlukan usaha sadar dan sungguh-sungguh yang bersangkutan, Northouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transformasional, yakni sebagai berikut:
1. Berdayakan seluruh bawahannya untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
2. Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
3. Dengarkan semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
4. Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
5. Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh bagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
6. Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi
2.3 Pengambilan Keputusan
Para pengambil keputusan hampir selalu membuat keputusan, bahkan setiap detik dari hidupnya. Ketika mereka mengambil keputusan, ada satu proses yang terjadi pada otak manusia yang akan menentukan kualitas keputusan yang dibuat (Permadi 1992). Ketika keputusan yang akan dibuat sederhana, seperti memilih warna baju, manusia dapat dengan mudah membuat keputusan. Namun ketika keputusan yang akan diambil bersifat kompleks dengan resiko yang besar seperti perumusan kebijakan, pengambilan keputusan sering memerlukan alat bantu dalam bentuk analisis yang bersifat ilmiah, logis dan terstruktur/konsisten. Salah satu alat analisis tersebut adalah berupa decision making model (model pembuatan keputusan) yang memungkinkan mereka untuk membuat keputusan untuk masalah yang bersifat kompleks. Faktor alam, politik, budaya, sosial ekonomi, religi sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan karena bersifat eksternal. Tidak jarang pengambilan keputusan dipengauhi dan ditekan oleh beberapa faktor tadi. Ambil kasus, misalnya kebijakan UU pornograpfi yang dipengaruhi oleh faktor religi atau kebijakan SKB 4 menteri tentang upah buruh yang dipengaruhi oleh faktor politik, sosial, dan ekonomi. Beberapa kebijakan yang diambil merupakan hasil perumusan masalah dan pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan diatas.
Manusia merupakan bagian dari alam, yang hidupnya tidak lepas dari alam. Bila pada proses kehidupan manusia sejak diciptakan merupakan unsur yang semakin lama semakin mendominasi atas unsur-unsur lainnya dari alam, maka hal itu tidak lain karena manusia dibekali dengan kemampuan-kemampuan untuk bisa berkembang demikian. Segala proses yang terjadi di sekeliling dan di dalam dirinya dirasakannya dan diamatinya dengan menggunakan semua indera yang dimilkinya, dipikirkannya, lalu ia bertindak. Dalam menghadapi segala proses yang terjadi di sekeliling dan di dalam dirinya, hampir setiap saat manusia membuat atau mengambil keputusan dan melaksanakan, ini tentu dilandasi asumsi bahwa segala tindakannya secara sadar merupakan pencerminan hasil proses pengambilan keputusan dalam pikirannya; sehingga sebenarnya manusia sudah sangat terbiasa dalam mebuat keputusan. Proses sejak identifikasi masalah sampai pemilihan solusi terbaik inilah yang disebut pengambilan keputusan (Putro dan Tjakraatmadja, 1998). Jika keputusan yang diambil tersebut perlu dipertanggungjawabkan kepada orang lain atau prosesnya memerlukan pihak lain, maka perlu untuk diungkapkan sasaran yang akan dicapai berikut kronologi proses kengambilan keputusannya (Mangkusubroto dan Tresandi, 1987). Proses pengambilan keputusan di dalam kehidupan organisasi adalah suatu proses yang selalu terjadi, dimana hal ini merupakan denyut nadi jalannya organisasi tersebut (Sudirman, 1998).
Dari beberapa definisi pengambilan keputusan yang ditemukan, dapat dirangkum bahwa pengambilan keputusan dalam suatu organisasi merupakan hasil suatu proses komunikasi dan partisipasi yang terus menerus dari keseluruhan organisasi. Hasil keputusan tersebut dapat merupakan pernyataan yang disetujui antar alternatif atau antar prosedur untuk mencapai tujuan tertentu. Pendekatannya dapat dilakukan, baik melalui pendekatan yang bersifat individual atau kelompok, sentralisasi atau desentralisasi, partsipasi/tidak berpartisipasi, maupun demokratis atau kosensus (Suryadi dan Ramdhani, 1998). Persoalan pengambilan keputusan, pada dasarrnya adalah bentuk pemilihan dari beberapa alternatif tindakan yang mungkin dipilih, yang prosesnya melalui mekanisme tertentu, dengan harapan akan menghasilkan sebuah keputusan yang terbaik. Penyusunan model keputusan adalah suatu cara untuk mengembangkan hubungan-hubungan logis yang mendasari persoalan keputusan ke dalam suatu model matematis, yang mencerminkan hubungan yang terjadi diantara faktor-faktor yang terlibat
2.4 Kualitas Pendidikan
2.4.1 Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UUSPN. 2003, pasal 1, ayat 1). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan berupaya menyiapkan peserta didik agar memiliki kompetensi-kempetensi yang bermanfaat bagi kehidupan melalui penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran. Kompetensi-kompetensi yang ingin diwujudkan melalui pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, tingkat persaingan antar individu dan antar bangsa menjadikan kompetensi sumber daya manusia menjadi faktor yang semakin menentukan dalam situasi kehidupan masyarakat global dewasa ini. Pendidikan merupakan usaha memberikan pelayanan bagi setiap warganya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat, hal ini berarti bahwa pendidikan merupakan investasi karena penyelenggaraanya memerlukan dana yang tidak sedikit oleh karena itu lembaga penyelenggara pendidikan harus memikirkan efisiensi dan efektivitas dalam pencapaian tujuan pendidikan. Untuk itu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan menjadi suatu yang sangat diperlukan agar out put dari suatu proses pendidikan dapat benar-benar mampu menghadapi kehidupan nyata di masyarakat. Dalam hubungan ini, lembaga pendidikan sekolah dituntut untuk mampu memelihara dan meningkatkan proses pendidikan secara efektif dan efisien serta dapat terus memperbaiki kualitas lulusannya agar mampu berperan dalam membangun masyarakat.
2.4.2 Sekolah Sebagai Lembaga Pendidikan
Dengan mengingat pentingnya bagi kehidupan masyarakat, maka diperlukan upaya-upaya untuk menyelenggarakan pendidikan secara baik, tertata dan sistimatis sehingga proses yang terjadi di dalamnya dapat menjadi suatu sumbangan besar bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, dalam hubungan ini sekolah sebagai suatu institusi yang melaksanakan proses pendidikan dalam tataran mikro menempati posisi penting, karena dilembaga inilah setiap anggota masyarakat dapat mengikuti proses pendidikan dengan tujuan mempersiapkan mereka dengan berbagai ilmu dan berbagai keterampilan agar lebih mampu berperan dalam kehidupan bermasyarakat. Kedudukan sekolah yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat pada dasarnya tidak terlepas dari fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan masyarakat yang sangat penting dan menentukan dalam perkembangan masyarakat, adapun fungsi-fungsi sekolah adalah (Morris. et al. 1962 : 113) :
o School give opporatunity for self-development and social mobility
o School develop the individual’s competence as a worker, citizen, and parent
o School contribute to the economic growth of a society
o School help to solve pressing social problem
Fungsi-fungsi tersebut, sebagai pemikiran yang diungkap lebih dari empat puluh tahun lalu, nampaknya perlu diperluas mengingat perkembangan jaman yang sangat cepat serta kompleksiatas masalah.
Sekolah dewasa ini perlu terus memikirkan posisinya kembali dalam masyarakat, perubahan yang terjadi juga telah menyebabkan tuntutan akan pendidikan terus meningkat, mendidik anak/siswa di sekolah bukan suatu fase yang terputus, tapi harus merupakan kontribusi dinamis bagi perkembangan menjadi manusia pembelajar. Sekolah tidak hanya mengajari anak dengan menambah penguasaan materi pelajaran saja, tapi juga perlu membina mereka menjadi pemikir yang dalam dan mampu menganalisa serta menerapkan pengetahuannya dalam memecahkan masalah-masalah nyata kehidupan, disamping itu kemampuan siswa bekerja secara kolaboratif, perlu terus dikembangkan, mengingat sekarang telah mengarah pada makin perlunya networking dalam kehidupan masyarakat, semua ini akibat dari globalisasi.
2.4.3 Sekolah Sebagai Suatu Sistem Sosial
Sebagai suatu sistem, sekolah terdiri dari bagian-bagian yang berinteraksi dan bersinergi dalam menjalankan peran dan fungsinya guna mencapai tujun-tujan pendidikan, sehingga dapat meningkatkan efektifitas pencapaiannya, menurut Wayne K. Hoy dan Cecil G. Miskel, (2001:23) unsur-unsur kunci dari suatu sistem sosial sekolah sebagai oragnisasi formal dalah struktur, individu, budaya, dan politik. Sebagai suatu sistem sosial organisasi sekolah merupakan organisasi yang berfungsi melakukan transformasi input menjadi output. Dalam proses tersebut terdapat faktor yang saling berpengaruh yaitu faktor struktur, faktor individu, faktor politik, serta faktor budaya. Dengan demikian dalam melihat suatu organisasi sekolah telah nampaknya diperlukan cara berpikir sistemik mengingat masin-masing subsistem di dalamnya mempunyai pengaruh pada proses transformasi yang terjadi, dan proses ini akan menentukan kualitas output yang dihasilkan sekolah.
2.4.4 Kualitas Pendidikan
L.C. Solmon dalam tulisan yang berjudul The Quality Of Education (Psacharopaulos, 1987 : 253) menyatakan bahwa untuk memahami kualitas pendidikan dari sudut pandang ekonomi diperlukan pertimbangan tentang bagaimana kulitas itu diukur. Dalam hubungan ini terdapat beberapa sudut pandang dalam mengukur kualitas pendidikan yaitu:
Pandangan yang menggunakan pengukuran pada hasil pendidikan (sekolah atau College)
 Pandangan yang melihat pada proses pendidikan
Pendekatan teori ekonomi yang menekankan pada akibat positif pada siswa atau pada penerima manfaat pendidikan lainnya yang diberikan oleh institusi dan atau program pendidikan
Sudut pandang tersebut diatas, masing-masing punya kelemahannya sendiri-sendiri, namun demikian pengukuran di atas tetap perlu dalam melihat masalah kualitas pendidikan, yang jelas diakui bahwa masalah peningkatan kualitas pendidikan bukanlah hal yang mudah sebagaimana diungkapkan oleh Stanley J. Spanbauer (1992:49) “Quality improvement in education should not be viewed as a “quick fix process”. It is a long term effort which require organizational change and restructuring”. Ini berarti bahwa banyak aspek yang berkaitan dengan kualitas pendidikan, dan suatu pandangan komprehensif mengenai kualitas pendidikan merupakan hal yang penting dalam memetakan kondisi pendidikan secara utuh, meskipun dalam tataran praktis, titik tekan dalam melihat kualitas berbeda-beda sesuai dengan maksud dan tujuan suatu kajian atau tinjauan. Kualitas pendidikan bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya, dia merupakan hasil dari suatu proses pendidikan, jika suatu proses pendidikan berjalan baik, efektif dan efisien, maka terbuka peluang yang sangat besar memperoleh hasil pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan mempunyai kontinum dari rendah ke tinggi berkedudukan sebagai suatu variabel,dalam konteks pendidikan sebagai suatu sistem, variabel kualitas pendidikan dapat dipandang sebagai variabel bebeas yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kepemimpinan, iklim organisasi, kualifikasi guru, anggaran, kecukupan fasilitas belajar dan sebagainya. Edward Salis (2006 : 30-31) menyatakan: “ada banyak sumber mutu dalam pendidikan, misalnya sarana gedung yang bagus, guru yang terkemuka, nilai moral yang tinggi, hasil ujian yang memuaskan, spesialisasi atau kejuruan, dorongan orang tua, bisnis dan komunitas lokal, sumber daya yang melimpah, aplikasi telnologi yang mutakhir, kepemimpinan yang baik dan efektif, perhatian terhadap pelajara anak didik, kurikulum yang memadai, atau juga kombinasi dari faktor-faktor tersebut“. Pernyataan ini menunjukan banyakna sumber mutu dalam bidang pendidikan, sumber ini dapat dipandang sebagai faktor pembentuk dari suatu kulitas pendidikaan, atau faktor yang mempengaruhi kulitas pendidikan.
Dalam hubungan dengan faktor berpengaruh pada kulitas pendidikan, hasil studi Heyman dan Loxley tahun 1989 (Mintarsih Danumihardja 2004 : 60) menyatakan bahwa faktor guru, waktu belajar, menajemen sekolah, sarana fisik dan pendidikan memberikan kontribusi yang berarti terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan dana untuk penyelenggaraan proses pendidilkan di sekolah menjadi salah satu faktor penting untuk dapat memenuhi kulitas dan prestasi belajar, dimana kulitas dan prestasi belajar pada dasarnya menggambarkan kulitas pendidikan.
Sementara itu Nanang Fatah (2000 : 90) mengemukakan upaya peningkatan mutu dan perluasan pendidikan membutuhkan sekurang-kurangnya tiga faktor utama yaitu; (1) Kecukupan sumber-sumber pendidikan dalam arti kulitas tenaga kependidikan, biaya dan sarana belajar; (2) proses belajar mengajar yang mendorong siswa belajar efektif; dan (3) mutu keluaran dalam bentuk pengetahuan, sikap keterampilan, dan nilai-nilai. Jadi kecukupan sumber, mutu proses belajar mengajar, dan mutu keluaran akan dapat terpenuhi jika dukungan biaya yang dibutuhkan dan professional kependidikan dapat disediakan di sekolah.
Dalam bidang kependidikan, yang termasuk input dalam konteks pengukuran kualitas hasil pendidikan adalah siswa dengan seluruh karakteristik personal serta biaya yang harus dikorbakan untuk memperoleh pendidikan/mengikuti sekolah, dan komponen yang terlibat dalam proses pendidikan di sekolah sebagai suatu institusi adalah guru dan SDM lainnya, kurikulum dan bahan ajar, metode pembelajaran, sarana pendidikan, sistem administrasi, sementara yang masuk dalam komponen output adalah hasil proses pembelajaran yang dapat menggambarkan kulitas pendidikan.
2.5 Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan
2.5.1 Standar Kompetensi Pendidkan
Di dalam PP 19 Tahun 2005 disebutkan bahwa pendidikan di Indonesia menggunakan delapan standar yang menjadi acuan dalam membangun dan meningkatkan kulitas pendidikan, Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada delapan standar yang menjadi kriteria minimal tersebut yaitu:
1. Standar isi
2. Standar Proses
3. Standar Kompetensi lulusan
4. Standar pendidiikan dan tenaga kependidikan
5. Standar sarana dan prasarana
6. Standar pengelolaan
7. Standar pembiayaan
8. Standar Penilaian Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta perdaban bangsa dan bermartabat (PP 19/25 Pasal 4)
Standar isi berkaitan dengan kurikulum yang akan diajarkan pada siswa, dalam hubungan ini kurikulum yang dipakai untuk dilaksanakan dilingkungan pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan kepmen No 22 tahun 2006 adalah KTSP yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Untuk lulusan telah diterbitkan Kepmen no. 23 tahun 2006 yang berisi tentang Standar Kompetensi Lulusan, dengan adanya standar ini, maka segala aktivitas dan proses pendidikan yang terjadi di sekolah harus mengacu pada standar kompetensi lulusan tersebut. Sementara itu, berkaitan dengan guru sehagai pendidik telah hadir Undang-Undang No. 14 tahun 2005, yang pada dasarnya menggambarkan standar tenaga pendidik. Dalam PP No 19 tahun 2005 pasal 28 ayat 1 disebutkan bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sementara itu kompetensi yang harus dimiliki pendidik (Guru) adalah a) Kompetensi Pedagogik; b) kompetensi kepribadian; c) kompetensi professional, dan d) kompetensi sosial (PP No 19 tahun 2005 pasal 28 ayat 3).
Untuk lebih memahami makna masing-masing kompetensi tersebut, berikut akan dijelaskan sesuai dengan penjelasan yang tercantum dalam PP No. 19 tahun 2005 serta UU Guru dan Dosen No. 14 tahun 2005.
o Kompetensi pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi :
o Pemahaman terhadap peserta didik
o Perancangan dan pelaksanaan pembelajaran
o Evaluasi hasil belajar
o Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
o Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan bewibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.
o Kompetensi professional
Kompetensi professional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan BSNP.
o Kompetensi sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik/guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
2.5.2 Sertifikasi Mutu Pendidikan
Sertifikasi merupakan proses pemberian sertifikat. Ini berarti bahwa sertifikasi di dasarkan pada suatu kriteria atau standar tertentu yang telah ditetapkan. Dengan demikian sertifikasi mutu pendidikan bermakna proses pemberian sertifikat berkaitan dengan kualitas pendidikan. Dalam bidang mutu secara umum, terdapat lembaga yang memberikan sertifikasi seperti ISO, dimana bidang pendidikanpun dapat memperolehnya sesudah melalui proses tertentu. Sementara itu dalam konteks Indonesia Badan Akreditasi dapat dipandang sebagai lembaga yang melakukan sertifikasi, dalam arti memberikan peringkat pada lembaga pendidikan bekaitan dengan penyelenggaraan pendidikan apakah dapat memenuhi standar yang telah ditentukan atau belum. Secara teoritis diakui bahwa kualitas pendidikan sebagai suatu profesi dengan kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan yang telah ditentukan, dalam hubungan ini sertifikasi pendidik menjadi salah satu cara untuk melihat keprofesionalan tenaga pendidik.
Berkaitan dengan tenaga pendidik, sertifikasi menjadi dasar dalam menentukan keprofesionalan Guru/Dosen. Mereka harus punya sertifikat pendidik sebagai bukti formal pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional. Menurut UU No 14 tahun 2005 pasal 11 disebutkan sebagai berikut :
1) Sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang tekah memenuhi persyaratan.
2) Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetepkan oleh pemerintah.
3) Sertifikasi pendidik dilaksanakan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai sertifikasi pendidik sebagai mana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.
2.5.3 Sosialisasi Manajemen Mutu dan Penjaminan Mutu
Masalah mutu dalam era sekarang ini merupakan masalah berkaitan dengan hidup dan matinya suatu organisasi terutama organisasi bisnis, oleh karena itu tidaklah berlebihan jika Rene T Domingo menulis buku berjudul Quality Means Survival (1997), artinya kualitas bermakna kehidupan. Untuk itu upaya untuk menjadikan organisasi bertahan, masalah kualitas harus menjadi perhatian, dan oleh karenanya makna penjaminan kualitas menjadi satu keharusan untuk diterapkan dalam suatu organisasi dalam kerangka Manajemen Kualitas Terpadu (Total Quality Mangjement). Oleh karena itu dalam dunia pendidikan pun masalah kualitas harus menjadi konsern bersama, mengingat masih diperlukan upaya yang serius guna meningkatkan kualitas pendidikan serta persaingan global dalam bidang pendidikan yang menunjukkan kecenderumgan makin meningkatkan baik level nasional maupun level global, ini terlihat makin banyaknya promosi yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dari Negara lain.
Namun demikian dalam kenyataan, perhatian dunia pendidikan akan kualitas merupakan hal yang baru jika dibandingkan dengan dunia bisnis, oleh karena itu kualitas dan penjaminan kualitas dapat dipandang sebagai inovasi dalam pendidikan. Dalam hubungan ini sosialisasi menjadi hal yang penting dalam mendukung keberhasilan implementasi penjaminan kualitas manajemen kualitas pendidikan. Untuk itu dalam melakukan sosialisasi dapat dilakukan melalui pendekatan difusi inovasi.
BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN
3.1 Pembahasan
Human Investmen menjelaskan proses dimana pendidikan memiliki pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi. Teori ini mendominasikan literatur pembangunan ekonomi dan pendidikan pada pasca perang dunia kedua sampai pada tahun 70-an. Termasuk para pelopornya adalah pemenang hadiah Nobel ilmu ekonomi Gary Becker dari Universitas Chicago. Amaerika Serikat, Edward Denison dan Theodore Schultz, juga pemenang hadiah nobel ekonomi atas penelitiannya tentang masalah ini. Argumen yang disampaikan pendukung teori ini adalah manusia yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yang diukur juga dengan lamanya waktu sekolah, akan memiliki pekerjaan dan upah yang lebih baik dibanding yang pendidikkannya lebih rendah. Apabila upah mencerminkan produktivitas, maka semakin banyak orng yang memiliki pendidikan lebih tinggi semakin tinggi produktivitas dan hasilnya ekonomi nasional akan bertumbuh lebih tinggi. Konsep investasi sumber daya manusia dapat dilihat dari tiga butir penting, yaitu education for all, education for self-help dan retrun on investment (ROI).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pendidikan mempunyai efek ganda dalam kehidupan manusia. Segala aspek yang ada dalam kehidupan manusia harus berpedoman pada pendidikan jika menginginkan kehidupan yang layak. Manusia mencari banyak cara untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Konsep dasar manusia di segala jaman adalah pencarian hidup perkembangan dalam menghasilkan prinsip, jawaban, proses prosedur, atau cara memperoleh tujuan dalam hidup.
Proses pelaksanaan pendidikan dan latihan merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan manusia terhadap produktivitas yang lebih baik merupakan jaminan mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Sebab produktivitas kerja yang lebih baik akan terwujud melalui pendidikan dan latihan. Bentuk pendidikan melalui sekolah merupakan bentuk human investmen yang lebih komprehensif. Artinya, manusia terdidik akan memilikin multifungsi dan kemauan lebih dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat. Andai seluruh manusia dalam sebuah bangsa memiliki, maka otomatis bangsa tersebut akan maju dan menjadi yang terdepan.
Pemerintahan pada saat ini belum berhasil merumuskan model pendidikan seperti apakah yang sesuai di Indonesia. Pendidikan di Indonesia saat ini semakin jauh dari cita-cita founding Father yang termaktub dalam mukadimah UUD 45 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah ke depan, agar pendekatan sumber daya mnusia di bidang pendidikan dapat terlaksana dengan lancar. Dari data survei sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Stasistik (BPS) 2003 ditemukan, seorang pekerja lulusan perguruan tinggi memiliki pendapatan tiga kali lipat dibanding lulusan SD. Sementara itu biaya bagi seorang mahasiswa mencapai 11 kali dibanding biaya yang dikeluarkan seorang siswa SD. Hal ini berarti pemerataan pendidikan dan pembiayaan pendidikan di Negara kita masih jauh dari harapan konsep, Human Investment yang mengedepankan kemampuan manusia dalam memajukan bamgsa dengan media pendidikan.
Fenomena yang tak kalah menarik di dalam masyarakat adalah mengenai pemerataan pendidikan. Secara kuantitatif, fenomena ini kerap diartikan sebagai kunci kesuksesan pembangunan ekonomi. Kecendrungan lain yang muncul di Negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia, antara lain pendidikan lebih dinilai sebagai status sosial ketimbang produktivitas. Masyarakat, termasuk pasar tenaga kerja, cenderung mengharapkan ijazah pendidikan lebih tinggi tanpa memperhatikan kualitas pendidikan. Permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia sebetulnya sudah mendarah daging. Akan tetapi hal ini dapat dikaji dengan melihat faktor-faktor masalahnya terlebih dahulu. Pertama, masalah mendasar, yaitu kekeliruan paradigma pendidikan yang mendasari keseluruhan penyelengaraan sistem pendidikan, Kedua, masalah-masalah cabang, yaitu berbagai problem yang berkaitan dengan aspek praktis/teknis yang berkaitan dengan penyelengaraan pendidikan, rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana fisik, rendahnya kesejahteraan guru, dan sebagainya. Seperti diuraikan di atas, selain adanya masalah mendasar, system pendidikan di Indonesia juga menglami masalah-masalah cabang, antara lain: Rendahnya sarana fisik, Rendahnya kulitas guru, Rendahnya kesejahteraan guru, Rendahnya prestasi siswa, Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan dengan kebutuhan, Mahalnya biaya pendidikan.
Kepemimpinan tetap selalu menjadi isu sentral di berbagai jenis organisasi baik di organisasi bisnis, perusahaan, ataupun lembaga pendidikan. Interaksi antar manusia dalam dunia pendidikan merupakan kunci utama yang harus di pegang seorang pemimpin lembaga pendidikan. Kenapa demikian?, karena salah satu tugas utama seorang pemimpin pendidikan beroreantasi pada manusia yang seimbang dengan pencapaian visi dan misi lembaga pendidikannya. Yaitu: [1] menetapkan dan mengupayakan tercapainya tujuan pendidikan atau disebut task oriented, dan [2] memperhatikan orang-orang yang dipimpinnya atau human oriented.
Konsep kepemimpinan masa depan masyarakat modern haruslah yang memilki ciri-ciri kepemimpinan modern, yakni memiliki semangat, nilai–nilai, dan pikiran-pikiran modern. Kita tidak boleh lupa pula bahwa Indonesia memiliki warisan dari para leluhur mengenai prinsip-prinsip kepemimpinan. Banyak diantaranya yang releven sepanjang masa dan sekarang pun masih digunakan. Salah satu konsep kepemimpinan yang merupakan warisan kebudayaan bangsa adalah Hastha Barta, atau delapan ajaran keutamaan, seperti ditunjukkan oleh sifat-sifat alam. Ki Hadjar Dewantara merumuskan kepemimpinan sosial dengan tiga ungkapan yang sangat dalam maknanya: ing ngarso sung tolodo , ing madyo mangunkarso, dan tut wuri handayani. Apabila ditelaah secara dalam, pesan-pesan leluhur serta asas-asas kepemimpinan yang telah kita miliki itu mengndung nilai-nilai kepemimpinan yang berlaku disegala jaman. Ini merupakan contoh dari nilai-nilai tradisional yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai modern, dan tidak lapuk dan lekang oleh gelombang perubahan apapun. Ini merupakan sifat-sifat kepemimpinan yang universal, yang berintikan suatu niali bahwa sang pemimpin harus dapat memotivasi dan memberikan keyakinan kepada yang dipimpinnya. Yang dipimpin harus merasakan kemanfaatan dari kepemimpinannya. Dengan demikian kepemimpinan-nya akan efektif, dan yang dipimpin dapat menerimanya dengan taat dan ikhlas. Dominasi era global telah membuat para penyelengaraan pendidikan terjebak dalam perasaan ketidakpastian dengan sistem saat ini. Hal ini disebabkan oleh tingkat kemajuan-kemajuan yang dicapai ilmu pengetahuaan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, melampaui kesiapan lembaga-lembaga pendidikan dalam mendesign kurikulum, metode dan sarana yang dimiliki guna menghasilkan lulusan-lulusannya memasuki sebuah era yang ditandai dengan tingkat kompetensi dan perubahan yang begitu massif dan cepat.
Saat ini, persoalan yang dihadapi oleh lembaga pendidikan bukan sekedar relevansi antar content yang diberikan kepada peserta didik dengan kebutuhan dunia kerja supaya lulusannya siap memasuki dunia kerja, akan tetapi lebih mengarah pada apa yang harus dicermati oleh dunia pendidikan terhadap relevansi dimensi pedagogies-didaktif (antara lain: teknik pengajaran, kurikulum, metode, tempat pembelajaran dan lainnya) dengan trend budaya global. Sehingga lembaga pendidikan harus mampu menyelesaikan perubahan ”Globalisasi yang diterjemahkan melalui definisi “globalisasi sering diterjemahkan “mendunia” atau”mensejagat” sesuatu entitas, betapapun kecilnya, disampaikan oleh siapapun, dimanapun dan apanpun, dengan cepat menyebar ke seluruh pelosok dunia baik berupa ide, gagasan, data, informasi, dan sebagainya; begitu disampaikan, saat itu pula diketahui oleh semua orang di seluruh dunia, hal ini biasanya banyak terjdi di lingkungan pendidikan dan berpeluang mengubah kebiasaan, tradisi, dan bahkan buday”..
Globalisasi perlu dicermati dengan memperhatikan akibat terjadinya perubahan yang terus menerus dan semakin cepat. Fenomena perubahan yang kian berakselerasi memberi imperative berbagai lembaga pendidikan yang ada untuk terus melkukan self reform jika ingin tetap mempertahankan eksitensinya di jaman yang berat seperti sekarang. Namun, juga perlu diperhatikan bahwa jika reformasi dilakukan secara serampangan, sekedar reaktif dan tidak visioner, justru akan menyebabkan terjadinya degradasi kemanusiaan dimasa mendatang.
Dunia pendidikan bukannya tidak memahami persoalan tersebut. Negara, sebagai pihak yang mengemban amanat penyelenggara pendidikan terus melakukan upaya-upaya penyempurnaan yang dibuat cenderung bersifat reaksioner serta kurang disadari visi yang jelas. Dalam literatur-literatur kepemimpinan, setiap penerang maupun para kulitinta umumnya mengajukan pengertian tersendiri tentang konsep kepemimpinan. Locke mendefinisikan kepemimpinan sebagai sutau proses “membujuk” orang-orang lain menuju sasaranan bersama. Definisi ini mencakup tiga elemen, yakni:
1. Kepemimpinan merupakan sutu konsep relasi (relation concept). Kepemimpinan hanya ada dalam proses relasi dengan orang lain (para pengikut). Apabila tidak ada pemimpin. Dalam definisi ini juga tersirat suatu premis bahwa para pemimpin yang efektif harus mengetahui bagaimana membangkitkan inspirasi dan ber-relasi dengan para pengikut mereka
2. Kepemimpinan merupakan suatu proses. Agar bisa memimpin, pemimpin harus melakukan sesuatu. John Gradner menemukan bahwa kepemimpinan lebih dari sekedar menduduki suatu otoritas. Kendati posisi otoritas yang diformalkan mungkin sangat mendorong proses kepemimpinan, namun sekedar menduduki posisi itu tidak merupakan tanda seseorang untuk menjadi pemimpin
3. Kepemimpinan harus “membujuk” orang lain untuk mengambil tindakan. Pemimpin membujuk pengikutnya melalui berbagai cara seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menciptakan model (menjadi teladan), penetapan sasaran, memberi imbalan dan hukuman, retruktursasi organisasi dan mengkomunikasikan misi dan visinya
Sebagai kesimpulan akhir konsep kepemimpinan dalam pendidikan selain memanfaatkan pada konsep kepemimpinan visioner dan tranrsformasional juga diperlukan menajemen partisipatif dari semua elemen organisasi dengan berorientasi pada tugas pokok pendidkan dan tugas pokok pengelolaan pelembagaan. Pentingnya berorientasi pada manusia, tidak lepas dari mekanisme manajemaen partisipatif dimana “anak buah” diajak untuk berpatisipasi dalam pencapaian tujuan lembaga pendidikan. Karena baginya, “keuntungannya manajemen partsipatif adalah motivasi dan moral kerja diperbaiki, rasa memiliki dan tanggung jawab ditingkatkan, melancarkan komunikasi timbala balik, keputusan yang diambil memiliki tingkat akseptibilitas yang tinggi, dan pelaksanaan keputusan biasanya lebih lancar“.
Disamping seorang pemimpin pendidikan, sebuah lembaga pendidikan hendaknya juga mempunyai seorang manajer lembaga pendidikan. Berbeda dengan pemimpin pendidikan, seorang manajer pendidikan lebih terfokus pada pengaturan mekanisme bergulirnya sebuah lembaga pendidikan. Mulai dari mengurusi bagian administrasi, keuangan, personalia, bagian umum, hingga masalah kehumasan. “Sebagai seorang pemimpin, kita diharapkan membawa visi, misi, filosofi dan nilai-nilai agar bisa dicapai. Pemimpin pendidikan lebih berperan untuk memberi inspirasi, dukungan, pemahaman, kepercayaan, keteladanaan, dan pengaruh. Sedangkan manajer membawa lembaga pendidikan supaya menjadi wealth creating instititution. Manajer pendidikan lebih berurusan dengan bagaimana menyelenggarakan lembaga secara efektif dan efisien,“ ungkapnya. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa pemimpin dan manajer lembaga pendidikan dapat dipegang oleh satu orang
Perananan kepemimpinan tersebut dapat digambarkan dengan mempertimbangkan keseluruhan elemen organisasai yang digerakkan oleh kepemimipinan yang dimiliki oleh pimpinanan tersebut untuk mencapai keunggulan organisasi dalam bersaing dalam melayani keinginan pemakai jasa pelayanan pendidikan.
3.2 Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kepemimpinan adalah suatu konsep yang sangat dekat denagan kesuksesan dalam mencapai tujuan suatu organisasi. Kepemimpinan akan sangat mewarnai, mempengaruhi bahkan menentukan bagaiman perjalanan suatu organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya. Agar pemimpin dapat memotivasi anak buah dengan lebih muda, diperlukan kemampuan menunjukan “makna” pekerjaan yang akan dilkukan dan menunjukan “keuntungan” yang akan diraih.
2. Lembaga pendidikan adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena lembaga pendidikan sebagai organisasi di dalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedang bersifat unik karena lemabaga pendidikan memiliki karakter tersendiri, dimana proses terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan manusia. Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebut, lembaga pendidikan sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. “Keberhasilan lembaga pendidikan adalah keberhasilan pemimpin lembaga pendidikan.” Secara sederhana pemimpin lembaga pendidikan dapat didefenisikan sebagai seorang tenaga fungsional tenaga pendidikan dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadinya interaksi antara tenaga kependidikan yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Pemimpin lembaga pendidikan dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para peserta didik.
3. Berdasarkan hasil kajian literatur yang dilakukan, Northouse (2001) menyimpulkan bahwa seseorang yang dapat menampilkan kepemimpinan tranformasional ternyata dapat lebih menunjukan sebagai seorang pemimpin yang efektif dengan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu, merupakan hal yang amat menguntungkan jika para pemimpin lembaga pendidikanmya. Karena kepemimpinan tranformasional merupakan sebuah rentangan yang luas tentang aspek-aspek kepemimpinan. Maka untuk bisa menjadi seorang pemimpin sadar dan sungguh-sungguh dari yang bersangkutan. Nothouse (2001) memberikan beberapa tips untuk menerapkan kepemimpinan transfrmasional, yakni sebagai berikut:
Berdayakan seluruh bawahan untuk melakukan hal yang terbaik untuk organisasi
Berusaha menjadi pemimpin yang bisa diteladani yang didasari nilai yang tinggi
Dengarkanlah semua pemikiran bawahan untuk mengembangkan semangat kerja sama
Ciptakan visi yang dapat diyakini oleh semua orang dalam organisasi
Bertindak sebagai agen perubahan dalam organisasi dengan memberikan contoh sebagaimana menggagas dan melaksanakan suatu perubahan
Menolong organisasi dengan cara menolong orang lain untuk berkontribusi terhadap organisasi
4. Strategi yang dikembangkan untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan anatara lain adalah standar Kompeyensi Pendidikan, Sertifikasi Mutu Pendidikan, Sosialisasi, Manajemen Mutu Dan Penjaminan Mutu.
5. Pengaruh-pengaruh kelompok dalam pengambilan keputusan transformasional visioner datang dari kompenen itu sendiri, yaitu;
a) Tujuan interdisipliner
b) Analisa Lingkungan
c) Sistem Proses
d) Informasi
e) Memperhitungkan faktor-faktor ketidaksamaan
f) Diarahkan pada tindakan nyata
6. Kebijakan-kebijakan yang diambil oleh seorang pemimpin terhadap pendidikan di Indonesia saat ini belumlah memenuhi kesejahteraan publik. Parahnya lagi kebijakan tersebut tidak berpijak pada visi ke depan. Alhasil, kebijakan yang ada hanyalah sebatas ketentuan biasa yang instan. Contohnya, setiap ada pergantian Menteri Pendidikan, maka kurikulum pun diubah.
DAFTAR PUSTAKA
Adair, J. (1983) Effective Leadership, London: Pan
Allix, N. (2000) ‘Tranformational Leadership: democratic or despotic?’, Educational
Management & Administration, 28 (1), hal. 7-20.
Bass, B.M & Avolio, B.J (1994) Improving Organizational Effectivess through Transformational Leadership, Thousand Oaks, CA: Sage.
Gibson, J. L. 1979. Organization, Behavior, Structures, Process. Business Publishing Company, Dallas.
Hasbullah. (1999). Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Heyting, m. (19880. ‘Leadership in professionally stafed organization, in Glatter, R. et al (eds.) Understanding School Management, Milton Keynes: Open University Press.
Janis, LL. Dan Mann, l. (1977). Decision Making. New York; McMillan Publishing.
Law, S. & Glover, D. (2001) Education Leadership and Learning, Buckingnam: Open University Press.
Natawidjaja, R, Sukmadinata, N. S. Ibrahim, R. dan Djohar, A. (2007). Rujukan Filsafat, Teori, dan Praktis Ilmu Pendidikan. Bandung: Univertas Pendidikan Indonesia Press.
Saaty, T. L. dan Vergas, L. G. (1994). Decision Making In Economic, Poltical, Social, and Technological Environment with the Analytic Hierarchi Process. Pittsburgh: RWS Publications.
Schein, E, (1985). Organizational Culture and Leaderdhip. San Francisco: Jossry-Bass.
Siagian, Sondang P. (2008). Pengantar Fisafat Pendidikan. Bandung; Percikan Ilmu.
Stogdill, R. M. (1974). Hanbook of Leadership, New York: The Free Press.
Tannembaum, R. 1961. Leadership and Organization. New York: McGraw-Hill.
Vroom, V. H. dan A. G. Jago. 1988. The New Leadership. Managing Participation in Orgaization. New Jersey: Prentice Hall, Englewood.
Yeoh, Michael. (1995). Vision Leadership: Values and Dtrategis Towards Vision 2020. Selangor: Pelanduk Publication.
Yukl, G. (2001) Leadership in Organisation, Englewood Cliffs: Prentince-Hall.

Sabtu, 24 September 2011

PROFESI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

PROFESI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
Dalam konteks
Pembangunan Sistem Pendidikan Nasional
Oleh
Prof.Dr.H.Djam’an Satori,MA
Jurusan Administrasi Pendidikan


Pendahuluan

Kajian terhadap Ilmu Administrasi Pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia dapat dikatakan relative baru, yaitu dimulai dalam dekade tahun 1960. Kebutuhan kajian Ilmu Administrasi Pendidikan dituntut oleh semakin kompleksnya penyelenggaraan pendidikan nasional yang menuntut bukan saja kinerja efektivitas dan efisiensi, namun akuntabilitas public yang semakin kuat. Sejak dimulainya pendekatan pembangunan Negara yang terencana dalam bentuk pembangunan lima tahunan di tahun 1970-an profesionalisme penyelenggara pendidikan baik pada tingkat struktural maupun satuan pendidikan semakin dirasakan. Ketiadaan amalan administrasi pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional akan berdampak terhadap rendahnya mutu kinerja para pengelola pendidikan yang selanjutnya berakibat pada rendahnya mutu pendidikan.
Tuntutan profesionalisme administrasi lebih dahulu terjadi di dunia business (business administration). Para pakar manajemen business melaporkan bahwa dekade 1980-an merupakan era di mana negara-negara barat sedang giat-giatnya mencari gaya (style) manajemen untuk menjawab tantangan gaya manajemen Jepang yang telah menunjukkankan keunggulan sejak tahun 1970-an. Dalam dunia business, tahun 1980-an dipandang sebagai peristiwa dimana gagasan dan pemikiran manajemen mempengaruhi tata kerja dan sendi-sendi kehidupan, seperti kenyamanan, kecepatan, ketepatan, dan aksesibilitas. Keadaan tersebut belum pernah terjadi sebelumnya di negara-negara Barat. Kompetisi di dunia usaha dalam skala global belum pernah terjadi sehebat di tahun 1980-an. Pertumbuhan besar-besaran dalam perdagangan internasional dan penanaman modal telah menumbuhkan kegiatan perbankkan dan keuangan sampai pada tingkat yang sangat peka bagi terjadinya perubahan mendadak sebagai akibat dari persaingan yang tajam. Ketidak hati-hatian dalam kompetisi yang semakin terbuka lintas Negara dapat membahayakan manajemen keuangan dan perbankkan seperti terjadi di Indonesia pada tahun 1998 yang yang berdampak pada terjadinya multi krisis. Fenomena tersebut terjadi dalam manajemen bisnis.
Perilaku penting dalam dunia bisnis adalah persaingan. Persaingan merupakan azas utama untuk memperoleh profit. Persaingan memicu kreativitas dan inovasi dari para pelakunya. Nilai persaingan dibangun untuk mengejar norma quality first, customer satisfaction and loyalty. Nilai-nilai seperti itu kurang mendapat perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan. Sekalipun penyelenggaraan pendidikan tidak berorientasi pada monetary profit, namun hasil investasi pendidikan diwujudkan dalam bentuk well-educated people yang sangat diperlukan dalam kehidupan Negara yang semakin bermartabat .
Perilaku kompetitif ditujukan untuk memperoleh predikat saya atau kami yang terbaik. Untuk memenuhi kondisi itu, maka kemudian dikembangkan budaya right fisrt time and every time melalui program continuous quality improvement. Inovasi dan kreativitas dalam manajemen bisnis dibangun melalui riset pasar, mempelajari perilaku kastemer, mempraktekan manajemen dan perencanaan stratejik, dan membangun organisasi pembelajar (learning organization). Itulah organisasi yang berorientasi pada laba (profit oriented).
Kompetisi tunggal (one-to-one) dalam dunia bisnis telah melahirkan keunggulan produk dan jasa, namun menimbulkan kekhawatiran akan praktek-praktek yang melanggar etika business, seperti perebutan manager sukses dan professional yang sangat berprestasi. Dalam jangka panjang kondisi tersebut melahirkan prasangka, kecurigaan, kecurangan, yang menghabiskan energy untuk maksud-maksud yang tidak sehat. Kebutuhan dirasakan untuk membangun sinergik dalam bentuk aliansi, yaitu bentuk-bentuk kesepatan kolaborasi dalam disain produk, penerapan teknologogi, segmen pasar, dan pemasarannya. Dalam sistuasi tersebut terjadi mutual thrust and benefit. Dengan kata lain membangun nilai kebersamaan untuk mewujudkan kebersamaan dalam kesejahteraan.
Paparan pemikiran di atas dimaksudkan untuk menggugah pemikiran dalam membangun manajemen pendidikan sebagai pekerjaan profesional dalam perspektif global. Nilai-nilai pendidikan apa yang dapat kita jadikan dasar untuk memicu inovasi dan kreativitas dalam praktek manajemen pendidikan, yang pada kenyataannya bersifat universal. Pengamatan penulis melalui literatur administrasi/manajemen pendidikan sejak tahun 1980-an menunjukkan bahwa gagasan-gagasan pengembangan manajemen pendidikan bersumber pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian dari bidang administrasi/manajemen bisnis.

Administrasi Pendidikan sebagai Profesi

Dalam berbagai kajian internasional tidak lagi dipertentangkan pandangan tentang profesi administrasi pendidikan. Dukungan konsep, teori, dan validasi empiric telah menjadi kebutuhan bagi pengelola pendidikan yang menempatkan pendidikan sebagai tanggung jawab penting pemerintah untuk mencerdaskan warga Negara. Administrasi pendidikan adalah bidang kajian yang menempatkan segmen kajian memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Mutu pendidikan pada dasarnya terletak dalam layanan belajar yang bermutu. Quality education means quality learning. Dalam posisi tersebut administrasi pendidikan diartikan sebagai disiplin ilmu yang mempelajari kegiatan sekkelompok orang yang sistematik dalam satu system sosial tertentu un tuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya untuk menghasilkan produktivitas pendidikan:

1. Produktivitas pendidikan difahami dalam konteks menghasilkan well-educated people yang harus dirumuskan dalam indikator-indikator output dan outcome system pendidikan. Indikator output (lulusan atau keluaran) dalam lingkungan persekolahan dirumuskan dalam bentuk kemampuan yang dimiliki lulusan menurut jenjang dan jenis sekolah. Indikator outcome dirumuskan dalam bentuk sosok individu yang diinginkan oleh pihak yang berkepentingan.
2. Sumber daya pendidikan adalah segala potensi yang diperlukan untuk menyelenggarakan layanan belajar yang bermutu. Fokus perhatian di sini mencakup ketersediaan pendidik dan tenaga kependidikan, sarana-prasarana pendidikan, biaya pendidikan, dan penerapan teknologi.
3. Perilaku dan tindakan administratif dalam penyelenggaraan pendidikan mencakup pengambilan keputusan, perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengarahan, serta pengawasan.
4. Kebijakan pendidikan menyangkut hal-ihwal yang diperlukan untuk mewujudkan “good governance” dalam manajemen sistem penyelengaraan pendidikan. Hal ini berkaitan dengan peratufran dan perundangan yang berlaku. Para pelajar administrasi pendidikan peduli terhadap pemahaman dan implementasi yang kon sisten peraturan perundangan yang mengikat pelaku penyelenggara pendidikan pada semua tingkatan.
5. Sistem nilai berkaitan dengan adaptabilitas terhadap system nilai (local wisdom ) masyarakat setempat.

Perubahan-perubahan yang mendukung Profesi Administrasi Pendidikan.

Terobosan (breakthrough) di bidang komputer dan teknologi komunikasi telah menyebabkan terjadinya perubahan struktur perekonomian dan mengubah sifat hubungan serta tata kerja orang-orang di dalamnya. Kebutuhan akan manajemen profesional semakin mendesak. Tuntutan tersebut dirasakan pula di negara-negara Asia, seperti Indonesia. Di dunia bisnis, pertumbuhan manajemen profesional telah menyebabkan terjadinya pemindahan pengelolaan perusahaan. Bisnis yang semula ditangani oleh keluarga melahirkan kebutuhan ditangani orang-orang profesional. Gerakan dalam bidang manajemen tersebut, pada dasarnya berisi kecenderungan pemikiran tentang hal-hal berikut :
1. Manajemen ilmiah yang berkembang pasca revolusi industri, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kecakapan dan karakteristik personil yang sesuai dengan norma dan budaya organisasi, pekerjaan, dan spesifikasi tugas. Gerakan ini diikuti oleh pandangan baru yang menganggap pentingnya kepuasan kerja. Kepuasan kerja yang sejati merupakan akibat dari hasil pekerjaan yang bermutu sebagai akibat dari pengerjaan yang benar. Dalam kondisi tersebut, kepuasan kerja yang dialami pegawai akan memungkinkan dicapai produktivitas organisasi yang tinggi. Sebaliknya, kepuasan yang menekankan pada perolehan upah semata, merupakan kepuasan semu. Pendekatan yang perlu dilakukan pimpinan adalah bagaimana memberikan kesempatan kepada para pegawai untuk mewujudkan seluruh potensi yang dimilikinya mendapatkan kepuasan dalam pekerjaan sehingga diperoleh hasil pekerjaan yang bermutu.
2. Lahirnya pengakuan bahwa manajer itu perlu dibentuk, bukan dilahirkan. Sukses yang diraih manajemen diyakini sebagai hasil belajar, bukan kecakapan yang dilahirkan. Manajer yang sukses merupakan hasil belajar. Oleh karena itu, pembentukan manajer profesional harus dirancang melalui program-program latihan. Profesionalisasi dalam manajemen menuntut pemahaman akan teori, konsep dan wawasan sebagai dasar tindakan para manajer.
3. Munculnya pengakuan bahwa para pegawai itu bukan semata dipandang sebagai orang-orang rasional, akan tetapi mereka juga adalah mahluk sosial. Para pegawai adalah manusia yang menginginkan pengakuan dan kesempatan untuk menikmati kepuasan yang diperoleh dari afiliasi sosial dengan orang-orang lain di lingkungan pekerjaannya. Pimpinan hendaknya dapat memberi makna pekerjaan terhadap para pegawai, sebab pekerjaan merupakan aspek kehidupan penting yang dapat memberi arti pada kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, seorang pimpinan harus memiliki kecakapan dalam hubungan antar manusia dan dinamika kelompok.
4. Perlunya peningkatan kemampuan pemimpin dalam memecahkan masalah. Organisasi yang maju ditandai oleh tantangan selalu hadirnya persoalan-persoalan baru yang perlu ditangani dengan cara-cara baru. Sebagai konsekuensinya, para pemimpin dituntut untuk menguasai kecakapan mengambil keputusan, baik keputusan manajerial operatif sehari-hari maupun keputusan stratejik. Kemampuan mendefinisikan masalah, memilih asusmsi yang tepat, merumuskan alternatif tindakan, menetapkan kriteria untuk memilih alternatif yang terbaik, melaksanakan alternatif, serta memonitor implementasinya, merupakan kecakapan yang harus dikuasai oleh seorang pemimpin profesional.
5. Lahirnya keyakinan bahwa organisasi hadir untuk melayani dan memberi kepuasan kepada clients. Para pegawai hendaknya memiliki kesadaran yang kuat bahwa mereka bekerja karena ada yang dilayani dan untuk memberi pelayanan. Sikap seperti ini harus menjadi kepememilikan. Dalam iklim kerja seperti itu, aktualisasi diri lahir dari kepuasan yang dirasakan dalam melakukan sesuatu yang terbaik bagi clients, dan dengan sendirinya bagi produktivitas organisasi. Hal demikian itu akan melahirkan komitmen yang kuat terhadap organisasi.
6. Globalisasi menempatkan organisasi apapun sebagai bagian dari lingkungan yang lebih luas, yang harus berinteraksi dan melaksanakan fungsinya secara tepat. Dalam konteks globalisasi, organisasi apapun harus meningkatkan kemampuannya untuk berkompetisi. Berkompetisi berarti meningkatkan mutu pelayanan dan mutu produk.
Isu sentral dari perubahan-perubahan tersebut pada intinya adalah perkembangan ke arah memperkuat prosisi profesionalisme dalam berbagai segmen pekerjaan, termasuk profesionalisme manajemen pendidikan.


Penguatan Kajian Administrasi Pendidikan

Globalisasi atau kesejagatan adalah istilah yang menjelaskan fenomena dunia tanpa batas. Fenomena ini merupakan konsekuensi dari kemajuan luar biasa di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Kebijakan dan keputusan-keputusan strategis internasional dan regional, bahkan nasional suatu negara (adikuasa) misalnya, mempunyai pengaruh terhadap pemunculan isu-isu strategis suatu negara. Bahkan, direncanakan atau tidak direncanakan, senang atau tidak senang, mau atau tidak mau, dan siap atau tidak siap, pengaruh-pengaruh tadi akan terjadi dan dirasakan, dan oleh karenanya harus diperhitungkan. Contoh yang paling mutakhir dan masih kita rasakan pengaruhnya adalah masalah di bidang moneter.
Kompetisi internasional yang dimunculkan dalam bentuk isu keunggulan kompetitif dan komparatif merupakan tantangan dalam dunia industri dan bisnis. Kondisi tersebut melahirkan organisasi standar mutu internasional (International Standard Organization), yang dibentuk untuk menjamin validitas dan reliabilitas mutu produk bagi konsumsi internasional. Gejala seperti itu akan mempunyai pengaruh yang tidak terbatas dalam pengembangan industri dan bisnis semata, akan tetapi juga bagi pengembangan format diplomatik, pertahanan dan keamanan, kebudayaan, dan pendidikan. Untuk memenangkan atau setidak-tidaknya mengimbangi kompetisi dalam pembangunan bangsa, maka pemikiran dan antisipasi terhadap kecenderungan dan corak kehidupan masa datang merupakan konsekuensi logis.
Sikap apriori kadangkala tercermin dalam memandang isu globalisasi. Globalisasi dipersepsi dari dampak negatif semata, seperti pengaruh budaya barat yang berbeda dengan tatanan budaya timur. Isu globalisasi hendaknya difahami secara rasional dan realistik. Kemajuan dalam bidang iptek, disiplin dan etos kerja yang ditunjukkan sebagai prestasi yang terjadi di negara-negara maju hendaknya ditempatkan sebagai pengaruh positif yang sangat penting untuk dipelajari.
Manajemen pendidikan bergerak dalam proses penyelenggaraan pendidikan berkepentingan dengan menjamin penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dengan pengelolaan yang efisien. Pengembangan teori dan praktek manajemen pendidikan terjadi di mana-mana, di semua negara. Dalam konteks ini, perspektif globalisasi dalam manajemen pendidikan bisa diposisikan dalam wilayah kajian sebagai berikut :
Pertama, wilayah kajian filsafat ilmu administrasi pendidikan. Ilmu dan metodologinya merupakan bidang kajian universal. Ada tiga gugus masalah yang harus dijawab : (1) Hakikat apa yang dikaji oleh ilmu administrasi pendidikan (ontologi), (2) Bagaimana cara yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dalam wilayah kajian administrasi pendidikan (epistemologi), dan (3) Apa manfaat utama ilmu administrasi pendidikan (axiologi). Para ahli filsafat ilmu terus mengingatkan bahwa fenomena kehidupan itu sangat kompleks. Pada prinsipnya gugus fenomena itu terdiri dari fenomena alam yang menjadi kajian Ilmu Pengetahuan Alam dan fenomena kehidupan manusia yang menjadi kajian Ilmu Pengetahuan Sosial. Ilmu Administrasi Pendidikan tergolong kajian ilmu-ilmu sosial. Sebagaimana halnya ilmu-ilmu sosial lainnya, maka upaya menemukan kebenaran dan penerapannya dalam ilmu administrasi pendidikan berlaku in what conditions. Administrasi Pendidikan adalah bidang kajian yang mempelajari bagaimana upaya untuk mencapai produktivitas pendidikan, dengan memobilisasi sumber-sumber daya yang tersedia melalui penciptaan suasana kerja yang kondusif dan bermartabat. Untuk memperhitungkan in what conditions, pengembangan ilmu admin istrasi pendidikan harus disertai asumsi-asumsi pengembangannya.
Kedua, wilayah kajian teori dan praktek pendidikan. Wilayah kajian ini berkaitan dengan filsafat dan tujuan pendidikan. Bagaimana nilai-nilai kebenaran yang ingin diwujudkan pada manusia sebagai subyek pendidikan. Apakah rumusan tujuan pendidikan seperti tercantum dalam UU no.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dianggap memadai sebagai referensi untuk mewujudkan sosok manusia Indonesia. Bagaimana elaborasi tujuan tersebut dikaitkan dengan lingkungan pendidikan (keluarga, sekolah dan masyarakat) serta tingkat dan jenis pendidikan (taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi). Bagaimana negara-negara lain melakukan jaminan bahwa referensi nilai atau teori pendidikan yang dianut dapat diwujudkan dalam praktek pendidikan mereka. Admin istrasi pendidikan berkepentingan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan bagaimana proses belajar dilakukan dengan benar. Ilmu Administrasi Pendidikan dikembangkan dan dilaksanakan atas keyakinan bahwa teori dan praktek pendidikan (pembelajaran) yang dilakukan oleh suatu negara merupakan realisasi dari teori yang benar.
Ketiga, wilayah kajian Sistem Pendidikan. Dalam berbagai kajian regional dan internasional pasca krisis moneter, kinerja sistem pendidikan nasional kita menunjukkan peringkat keterpurukkan, yang memberi isyarat bahwa ada sesuatu yang salah. Permasalahan sesungguhnya bisa diperjelas manakala kita mempersoalkan business core sistem pendidikan nasional, yaitu kegiatan belajar-mengajar. Mutu kegiatan belajar-mengajar ditentukan oleh kinerja profesional guru (yang dapat dikaji dari aspek kompetensi, komitmen, motivasi, kreativitas). Profesionalisme guru berkaitan dengan mutu pendidikan pra-jabatan guru. Mutu pendidikan pra-jabatan ditentukan terutama oleh mutu input calon guru dan pembinaan karakter profesi selama mengikuti pendidikan. Sementara itu, menurut teori motivasi (expectation theory), mutu input pendidikan pra-jabatan guru berkaitan dengan expektasi kompensasi yang akan diterima. Dalam lima tahun terakhir terjadi perubahan fenomena sebagai akibat dari implementasi Undang-Undang Guru dan Dosen, yang mengatur pendidikan profesi guru serta hak-haknya bagi guru bersertifikasi. Input calon mahasiswa lembaga penduidikan tenaga kependidikan menunjukkan prediksi profesi guru yang lebih baik. Persepktif internasional, khususnya di negara-negara maju, menunjukkan bahwa perhatian terhadap martabat guru merupakan prasyarat untuk meningkatkan kinerja sistem pendidikan.
Administrasi pendidikan sebagai “alat” pendukung kinerja sistem di masa depan diperkuat oleh mutu kehidupan kerja guru yang lebih baik.

Keempat, wilayah kajian profesionalisme manajer pendidikan. Prinsip the right men in the right position bukan konsep baru. Sejak kajian teori birokrasi, konsep ini telah mendapat penerimaan dalam praktek. Kajian profesionalisme administrasi pendidikan dapat dipilah ke dalam dua level, yaitu building level untuk posisi kepala sekolah dan strcture level untuk posisi manajemen sistem pendidikan, yaitu jabatan-jabatan pada tingkat kantor dinas pendidikan kabupaten/kota, propinsi dan pusat. Kepala sekolah merupakan posisi kunci bagi kemajuan sekolah, school principal makes the difference, yang mengandung arti bahwa seorang kepala sekolah dengan kinerja baik dapat menjadikan sekolah tampil beda. Di negara maju manapun, posisi manajer sekolah mendapat perhatian serius dari aspek kebijakan. Posisi jabatan headmaster ini dilindungi dari kemungkinan diisi oleh orang yang tidak kompeten. Rekruitmen dan seleksi merupakan tahapan kritis dalam pencarian kepala sekolah, yang telah mejadi perhatian serius dan dipraktekan di negara-negara maju. Bagaimana pula dengan praktek sertifikasi kepala sekolah ditempatkan sebagai bagian perolehan kredit bagi program gelar magister pendidikan yang banyak dilakukan di negara-negara maju. Selama ini, pendidikan khusus penyiapan atau penguatan posisi kepala sekolah belum merupakan kebijakan yang mengikat jika dilihat dari kebijakan pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten/kota.
Berbagai posisi jabatan manager pendidikan dalam struktur organisasi dinas pendidikan di lingkungan pemerintah daerah dan departemen pendidikan nasional belum menjadi kajian profesionalisme manajer pendidikan secara serius. Dalam praktek otonomi daerah, kondisi tersebut telah melahirkan keprihatinan. Posisi jabatan yang seharusnya dihampiri dari kacamata profesionalisme, seringkali dilihat dari kacamata kepentingan politik. Gejala ini melahirkan ketidakpuasan dari banyak pihak yang menekuni pendidikan sebagai profesi; dan yang paling membahayakan adalah dilihat dari segi persepektif pembangunan pendidikan.
Kelima, wilayah kajian pengembangan teori administrasi pendidikan. Administrasi pendidikan sebagai disiplin ilmu didukung oleh kerangka berfikir logis yang diisi oleh konsep dan teori-teori Administrasi pendidikan. Pertanyaannya adalah apakah yang dimaksud dengan teori dan konsep dalam ilmu administrasi pendidikan itu. Secara historis respon untuk mempelajarai manajemen pendidikan dilakukan oleh orang-orang yang menekuni profesi pendidikan, seperti halnya manajemen rumah sakit. “Orang-orang pendidikan” adalah mereka yang menekuni pendidikan sebagai profesi dengan “teaching profession” sebagai business core-nya. Literatur administrasi pendidikan (manajemen pendidikan) menjelaskan bahwa pengembangan teori dan konsep yang membantu pengembangan ilmu administrasi pendidikan berasal dari kajian ilmu manajemen bisnis. Fungsi-fungsi manajemen pendidikan seperti planning, organizing, actuating dan controling (POAC), atau planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, dan budgetting (POSDCORB) diperoleh dari literatur ilmu manajemen (administrasi). Demikian pula konsep-kosep kepemimpinan, teori organisasi, analisis kebijakan perencanaan, dan lain-lain diperoleh dari literatur manajemen/administrasi. Para pelajar ilm u administrasi pendidikan di masa depan harus lebih berexlorasi terhadap berbagai pemikiran yang b erkembang sebagai hasil-hasil penelitian administrasi bisnis.
Keenam, kajian penelitian administrasi pendidikan. Seperti halnya wilayah kajian teori administrasi pendidikan, kajian penelitian administrasi pendidikan belum tumbuh subur. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya motivasi dan biaya untuk melakukannya, sementara di lingkungan manajemen bisnis iklim kompetisi telah menjadi kebutuhan untuk membiayai penelitian-penelitian. Sesungguhnya, yang membedakan penelitian manajemen bisnis dan manajemen pendidikan adalah aspek filosofis, substansi dan setting kebijakan. Dengan demikian, penelitian manajemen pendidikan seharusnya terbuka untuk dilakukan oleh kelompok pendukung profesi itu (peneliti dan dosen). Literatur manajemen pendidikan (administrasi pendidikan) yang diterbitkan di Amerika Serikat, Inggeris dan Australia seringkali melaporkan hasil-hasil penelitian dalam bidang manajemen pendidikan. Pertanyaannya adalah bagaimana mengembangkan minat untuk melakukan penelitian dalam bidang manajemen pendidikan (di luar produk tesis dan disertasi). Yang harus menjadi perhatian awal adalah menemukan tema sentral penelitian yang merupakan prioritas dalam manajemen pendidikan dilihat dari ketegori basic research dan applied research.
Ketujuh, kajian ikatan atau organisasi profesi manajemen pendidikan. Ikatan profesi merupakan sekelompok orang yang berkecimpung, mengabdikan diri, dan memiliki komitmen pengembangan profesi yang bersangkutan. Pembentukan organisasi profesi manajemen pendidikan bukan sejedar deklarasi formal dan seremonial, akan tetapi memiliki roh komitmen dan pengabdian, dengan cita-cita membangun mutu kinerja praktek manajemen pendidikan yang profesional. Sesuatu yang patut disyukuri adalah bahwa profesi manajemen pendidikan telah memiliki ikatan/organisasi profesi, yaitu Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan Indonesia (ISMAPI) dan wadah ICEMAL (International Conference for Educational Management, Administration, and Leadership). Organisasi sejenis di Australia adalah Australian Council for Educational Administration, di Amerika Serikat ada Asosiasi Profesor Administrasi Pendidikan disamping ada Asosiasi Administrator Sekolah. Kekuatan organisasi profesi terletak pada dukungan anggotanya. Anggota organisasi tersebut terbuka luas, bukan saja penyandang gelar/ijazah dari bidang kjeilmuan itu, namun mengakomodasi pula para administrator sekolah, administrator pendidikan dalam struktur organisasi pendidikan, para peminat menajemen pendidikan, dan mahasiswa program magister dan doktor administrasi/manajemen pendidikan.

Performance Excellence in Education
Munculnya organisasi mutu (seperti American Society for Quality) mendorong berbagai kajian untuk mengkaji standar mutu, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan. Salah satu bentuk standar mutu dikembangkan untuk mengukur kinerja penyelenggaraan sekolah yaitu Baldrige Education Criteria. Dikatakan bahwa kriteria yang dirumuskan ditujukan agar sekolah mampu mencapai derajat kinerja optimum, yang dapat digunakan diberbagai jenis dan jenjang, di negara manapun. Pengembangan profesi administrasi pendidikan di Indonesia di masa depan harus menempatkan prioritas sebagai berikut :

1. Leadership Capacity
Kebutuhan ini terjadi dalam setiap tingkatan manajerial. Organizational Leadership dalam system pendidikan pada dewasa ini menuntut pre and inservice education untuk membangun pelayanan pendidikan yang bermutu sebagai bagian dari public accountability
2. Strategic Planning
a. Strategy Development
b. Strategy Deployment
3. Student, Stakeholder, Market Focus
a. Knowledge of Student, Stakeholder, and Market Needs and Expectations
b. Student and Stakeholder Relationships and Satisfaction
4. Information and Analysis
a. Measurement and Analysis of Organizational Performance
b. Information Management
5. Faculty and Staff Focus
a. Work Systems
b. Faculty and Staff Education, Training and Development
c. Faculty and Staff Well-Being and Satisfaction
6. Process Management
a. Education Design and Delivery Processes
b. Student Services
c. Support Processes
7. Organizational Performance Results
a. Student Learning Results
b. Student and Stakeholder-Focused Results
c. Budgetary, Financial, and Market Results
d. Faculty and Staff Results
e. Organizational Effectiveness Results

Kriteria kinerja pendidikan di atas dapat dipandang sebagai criteria universal yang disosialisasikkan, bahkan dikampanyekan, untuk dicoba digunakan untuk mengukur kinerja manajemen sistem sekolah di manapun.

Kesimpulan

1. Pengembangan teori dalam manajemen pendidikan pada kenyataannya banyak diperkaya dari perspektif manajemen bisnis. Kenyataan ini harus menggugah para ahli manajemen pendidikan untuk mengembangkan teori (theory building) dalam budaya keilmuan mandiri.
2. Persepektif bahasan di atas memposisikan Ilmu Manajemen/Administrasi Pendidikan merupakan bidang kajian universal. Fenomena empirik yang menjadi obyek studinya merupakan gejala (fakta) yang dapat dipelajari di manapun dalam praktek penyelenggaraan pendidikan.
3. Universalitas manajemen pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam gugus kajian : (1) Filsafat Ilmu, (2) Validasi Teori dan Praktek, (3) Sistem Pendidikan, (4) Profesionalisme, (5) Pengembangan Teori, (6) Penelitian, dan (7) Organisasi Profesi.
4. Standar kinerja penyelenggaraan pendidikan (khususnya persekolahan) dapat dikembangkan dalam prespektif global. Demikian pula penyelenggaraan manajemen pendidikan pada dasarnya dapat diukur berdasarkan kriteria universal .
5. Kecenderungan pengelolaan sistem pendidikan di masa depan menunjukkan urgensi pendekatan profesionalisme administrasi pendidikan dalam semua tingkatan.
6. Ilmu Administrasi/Manajemen Pendidikan merupakan kajian terbuka, dinamis, dan kontekstual yang menuntut penelitian dan pengembangan berkelanjutan.

Rabu, 27 Juli 2011

Tugas buat kelas XI SMA PAsundan 1 TAsikmalaya
1. Sebutkan penegrtian dari Budaya Politik?
2. Sebutkan Pembagian nya
dan terangkan perbedaannya?
3. sebutkan budaya budaya politik yang berkembang di indonesia?

Jumat, 22 Juli 2011

Pendidikan Karakter :Penting , tapi Tidak Cukup

h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 1
PENDIDIKAN KARAKTER: Penting, Tapi Tidak Cukup!
Oleh: Dr. Adian Husaini
(Peneliti INSISTS/Ketua Program Studi Pendidikan Islam,
Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor)
*****
“Good character is more to be praised than outstanding talent. Most talents are to some
axtent a gift. Good character, by contranst, is not given to us. We have to build it peace by
peace – by thought, choice, courage and determination.” (John Luther, dikutip dari Ratna
Megawangi, Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007).
“Oleh sebab wujudmu belum masak,
Kau menjadi hina-terlempar
Oleh sebab tubuhmu lunak,
Kau pun dibakar orang,
Jauhilah ketakutan, duka dan musuh hati,
Jadilah kuat seperti batu, jadilah intan.”
(Dr. Moh. Iqbal, dari puisi bertajuk “Kisah Intan dan Batu Arang”, terjemah Kol. Drs.
Bahrum Rangkuti dalam buku Asrari Khudi, Rahasia-Rasia Pribadi, (Jakarta: Pustaka Islam,
1953).
*****
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah
mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SDPerguruan
Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh, pembentukan karakter perlu
dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk sejak usia dini, kata Mendiknas,
maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga berharap, pendidikan
karakter dapat membangun kepribadian bangsa. Mendiknas mengungkapkan hal ini saat
berbicara pada pertemuan Pimpinan Pascasarjana LPTK Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) se-Indonesia di Auditorium Universitas Negeri Medan (Unimed),
Sabtu (15/4/2010).
Munculnya gagasan program pendidikan karakter di Indonesia, bisa dimaklumi.
Sebab, selama ini dirasakan, proses pendidikan dirasakan belum berhasil membangun
manusia Indonesia yang berkarakter. Bahkan, banyak yang menyebut, pendidikan telah gagal,
karena banyak lulusan sekolah atau sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak
cerdas, tetapi mental dan moralnya lemah.
Banyak pakar bidang moral dan agama yang sehari-hari mengajar tentang kebaikan,
tetapi perilakunya tidak sejalan dengan ilmu yang diajarkannya. Sejak kecil, anak-anak
diajarkan menghafal tentang bagusnya sikap jujur, berani, kerja keras, kebersihan, dan
jahatnya kecurangan. Tapi, nilai-nilai kebaikan itu diajarkan dan diujikan sebatas pengetahuan
di atas kertas dan dihafal sebagai bahan yang wajib dipelajari, karena diduga akan keluar
dalam kertas soal ujian.
Pendidikan karakter bukanlah sebuah proses menghafal materi soal ujian, dan teknikteknik
menjawabnya. Pendidikan karakter memerlukan pembiasaan. Pembiasaan untuk
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 2
berbuat baik; pembiasaan untuk berlaku jujur, ksatria; malu berbuat curang; malu bersikap
malas; malu membiarkan lingkungannya kotor. Karakter tidak terbentuk secara instan, tapi
harus dilatih secara serius dan proporsional agar mencapai bentuk dan kekuatan yang ideal.
Di sinilah bisa kita pahami, mengapa ada kesenjangan antara praktik pendidikan
dengan karakter peserta didik. Bisa dikatakan, dunia Pendidikan di Indonesia kini sedang
memasuki masa-masa yang sangat pelik. Kucuran anggaran pendidikan yang sangat besar
disertai berbagai program terobosan sepertinya belum mampu memecahkan persoalan
mendasar dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana mencetak alumni pendidikan yang
unggul, yang beriman, bertaqwa, profesional, dan berkarakter, sebagaimana tujuan pendidikan
dalam UU Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam bukunya yang berjudul, Pribadi (Jakarta: Bulan Bintang, 1982, cet.ke-10),
Prof. Hamka memberikan gambaran tentang sosok manusia yang pandai tapi tidak memiliki
pribadi yang unggul:
”Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, banyak orang yang bukunya satu gudang dan
diplomanya segulung besar, tiba dalam masyarakat menjadi ”mati”, sebab dia bukan
orang masyarakat. Hidupnya hanya mementingkan dirinya, diplomanya hanya untuk
mencari harta, hatinya sudah seperti batu, tidak mampunyai cita-cita, lain dari pada
kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat. Dia bergerak bukan karena dorongan jiwa
dan akal. Kepandaiannya yang banyak itu kerap kali menimbulkan takutnya. Bukan
menimbulkan keberaniannya memasuki lapangan hidup.”
Budayawan Mochtar Lubis, bahkan pernah memberikan deskripsi karakter bangsa
Indonesia yang sangat negatif. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 6 April 1977,
Mochtar Lubis mendeskripsikan ciri-ciri umum manusia Indonesia sebagai berikut: munafik,
enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, masih percaya takhayul, lemah karakter,
cenderung boros, suka jalan pintas, dan sebagainya. Lebih jauh, Mochtar Lubis
mendeskripsikan ciri-ciri utama manusia Indonesia:
1. “Salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah HIPOKRITIS alias
MUNAFIK. Berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan sebuah ciri
utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak mereka dipaksa oleh kekuatankekuatan
dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakannya atau
dipikirkannya atau pun yang sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat
ganjaran yang membawa bencana bagi dirinya.”
2. “Ciri kedua utama manusia Indonesia masa kini adalah segan dan enggan bertanggung
jawab atas perbuatannya, putusannya, kelakukannya, pikirannya, dan sebagainya.
“Bukan saya” adalah kalimat yang cukup populer pula di mulut manusia Indonesia.”
3. “Ciri ketiga utama manusia Indonesia adalah jiwa feodalnya. Meskipun salah satu
tujuan revolusi kemerdekaan Indonesia ialah juga untuk membebaskan manusia
Indonesia dari feodalisme, tetapi feodalisme dalam bentuk-bentuk baru makin
berkembang dalam diri dan masyarakat manusia Indonesia.”
4. “Ciri keempat utama manusia Indonesia adalah manusia Indonesia masih percaya
takhayul. Dulu, dan sekarang juga, masih ada yang demikian, manusia Indonesia
percaya bahwa batu, gunung, pantai, sungai, danau, karang, pohon, patung, bangunan,
keris, pisau, pedang, itu punya kekuatan gaib, keramat, dan manusia harus mengatur
hubungan khusus dengan ini semua…”
“Kemudian, kita membuat mantera dan semboyan baru, jimat-jimat baru, Tritura,
Ampera, orde baru, the rule of law, pemberantasan korupsi, kemakmuran yang merata
dan adil, insan pembangunan. Manusia Indonesia sangat mudah cenderung percaya
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 3
pada menara dan semboyan dan lambang yang dibuatnya sendiri.”
5. “Ciri keenam manusia Indonesia punya watak yang lemah. Karakter kurang kuat.
Manusia Indonesia kurang kuat mempertahankan atau memperjuangkan
keyakinannya. Dia mudah, apalagi jika dipaksa, dan demi untuk “survive” bersedia
mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala pelacuran intelektual
amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.”
6. “Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpestapesta.
Hari ini ciri manusia Indonesia ini menjelma dalam membangun rumah mewah,
mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf,
singkatnya segala apa yang serba mahal.”
“Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa… atau dengan mudah
mendapat gelar sarjana, sampai memalsukan atau membeli gelar sarjana, supaya
segera dapat pangkat, dan dari kedudukan berpangkat cepat bisa menjadi kaya. Jadi
priyayi, jadi pegawai negeri adalah idaman utama, karena pangkat demikian
merupakan lambang status yang tertinggi.” (Mochtar Lubis, Manusia Indonesia,
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001).
Tentu, silakan tidak bersetuju dengan pendapat Mochtar Lubis!
*****
Banyak pendidik percaya, karakter suatu bangsa terkait dengan prestasi yang diraih
oleh bangsa itu dalam berbagai bidang kehidupan. Dr. Ratna Megawangi, dalam bukunya,
Semua Berakar Pada Karakter (Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI, 2007), mencontohkan,
bagaimana kesuksesan Cina dalam menerapkan pendidikan karakter sejak awal tahun 1980-
an. Menurutnya, pendidikan karakter adalah untuk mengukir akhlak melalui proses knowing
the good, loving the good, and acting the good. Yakni, suatu proses pendidikan yang
melibatkan aspek kognitif, emosi, dan fisik, sehingga akhlak mulia bisa terukir menjadi habit
of the mind, heart, and hands.
Dr. Ratna Megawangi termasuk salah cendekiawan yang sangat gencar
mempromosikan pendidikan karakter, melalui berbagai aktivitas dan tulisannya. Pendidikan
karakter by definition adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui
pendidikan budi pekerti, yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah
laku yang baik, jujur bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras, dan
sebagainya (Thomas Lickona, 1991). Aristoteles, kabarnya, juga berpendapat bahwa karakter
itu erat kaitannya dengan kebiasaan yang kerap dimanifestasikan dalam tingkah laku.
Russel Williams, seperti dikutip Ratna, menggambarkan karakter laksana “otot”, yang
akan menjadi lembek jika tidak dilatih. Dengan latihan demi latihan, maka “otot-otot”
karakter akan menjadi kuat dan akan mewujud menjadi kebiasaan (habit). Orang yang
berkarakter tidak melaksanakan suatu aktivitas karena takut akan hukuman, tetapi karena
mencintai kebaikan (loving the good). Karena cinta itulah, maka muncul keinginan untuk
berbuat baik (desiring the good).
Pemimpin Cina, Deng Xiaoping, pad atahun 1985 sudah mencangkan pentingnya
pendidikan karakter: Throughout the reform of the education system, it is imperative to bear
in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or
woman of character and cultivating more constructive members of society. Li Lanqing,
mantan wakil PM Cina, dalam bukunya, Educations for 1.3 Billion, menjelaskan reformasi
pendidikan yang dijalankan di Cina. Ia menulis: After many years of practice, character
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 4
education has become the consensus of educators and people from all walks of life across this
nation. It is being advanced in a comprehensive way.”
Menurut Ratna Megawangi, pendidikan karakter memerlukan keterlibatan semua
aspek dimensi manusia, sehingga tidak sesuai dengan sistem pendidikan yang terlalu
menekankan pada aspek hafalan dan orientasi untuk lulus ujian. Dalam bukunya, Pendidikan
Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, (2010), Doni Koesoema Albertus
menulis, bahwa pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang
berkeutamaan. Dalam pendidikan karakter, yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan
pemahamannya. Doni membedakan pendidikan karakter dengan pendidikan moral atau
pendidikan agama. Pendidikan agama dan kesadaran akan nilai-nilai religius menjadi
motivator utama keberhasilan pendidikan karakter.
Tetapi, Doni yang meraih sarjana teologi di Universitas Gregoriana Roma Italia,
agama tidak dapat dipakai sebagai pedoman pengatur dalam kehidupan bersama dalam
sebuah masyarakat yang plural. ”Di zaman modern yang sangat multikultural ini, nilai-nilai
agama tetap penting dipertahankan, namun tidak dapat dipakai sebagai dasar kokoh bagi
kehidupan bersama dalam masyarakat. Jika nilai agama ini tetap dipaksakan dalam konteks
masyarakat yang plural, yang terjadi adalah penindasan oleh kultur yang kuat pada mereka
yang lemah,” tulisnya.
Oleh karena itu, simpul Doni K. Albertus, meskipun pendidikan agama penting dalam
membantu mengembangkan karakter individu, ia bukanlah fondasi yang efektif bagi suatu
tata sosial yang stabil dalam masyarakat majemuk. Dalam konteks ini, nilai-nilai moral akan
bersifat lebih operasional dibandingkan dengan nilai-nilai agama. Namun demikian, nilai-nilai
moral, meskipun bisa menjadi dasar pembentuk perilaku, tidak lepas dari proses hermeneutis
yang bersifat dinamis dan dialogis.
Dalam pandangan Islam, pandangan sekularistik Doni K. Albertus semacam itu, tentu
tidak dapat diterima. Sebab, bagi Muslim, nilai-nilai Islam diyakini sebagai pembentuk
karakter dan sekaligus bisa menjadi dasar nilai bagi masyarakat majemuk. Masyarakat
Madinah yang dipimpin Nabi Muhamamd saw, berdasarkan kepada nilai-nilai Islam, baik
bagi pribadi Muslim maupun bagi masyarakat plural. Memang ada pengalaman sejarah
keagamaan yang berbeda antara Katolik dengan Islam.
Namun, dalam soal pendidikan karakter bagi anak didik, berbagai agama bisa
bertemu. Islam dan Kristen dan berbagai agama lain bisa bertemu dalam penghormatan
terhadap nilai-nilai keutamaan. Nilai kejujuran, kerja keras, sikap ksatria, tanggung jawab,
semangat pengorbanan, dan komitmen pembelaan terhadap kaum lemah dan tertindas, bisa
diakui sebagai nilai-nilai universal yang mulia. Bisa jadi, masing-masing pemeluk agama
mendasarkan pendidikan karakter pada nilai agamanya masing-masing.
Terlepas dari perdebatan konsep-konsep pendidikan karakter, bangsa Indonesia
memang memerlukan model pendidikan semacam ini. Sejumlah negara sudah mencobanya.
Indonesia bukan tidak pernah mencoba menerapkan pendidikan semacam ini. Tetapi,
pengalaman menunjukkan, berbagai program pendidikan dan pengajaran – seperti pelajaran
Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewargaan Negara (PPKN), Pendidikan Moral
Pancasila (PMP), Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), – belum mencapai
hasil optimal, karena pemaksaan konsep yang sekularistik dan kurang seriusnya aspek
pengalaman. Dan lebih penting, tidak ada contoh dalam program itu! Padahal, program
pendidikan karakter, sangat memerlukan contoh dan keteladanan. Kalau hanya slogan dan
’omongan’, orang Indonesia dikenal jagonya!
Harap maklum, konon, orang Indonesia dikenal piawai dalam menyiasati kebijakan
dan peraturan. Ide UAN, mungkin bagus! Tapi, di lapangan, banyak yang bisa menyiasati
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 5
bagaimana siswanya lulus semua. Sebab, itu tuntutan pejabat dan orang tua. Guru tidak
berdaya. Kebijakan sertifikasi guru, bagus! Tapi, karena mental materialis dan malas sudah
bercokol, kebijakan itu memunculkan tradisi berburu sertifikat, bukan berburu ilmu! Bukan
tidak mungkin, gagasan Pendidikan Karakter ini nantinya juga menyuburkan bangku-bangku
seminar demi meraih sertifikat pendidikan karakter, untuk meraih posisi dan jabatan tertentu.
*****
Mohammad Natsir, salah satu Pahlawan Nasional, tampaknya percaya betul dengan
ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara
bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.”
Menurut rumus ini, dua kata kunci kemajuan bangsa adalah “guru” dan
“pengorbanan”. Maka, awal kebangkitan bangsa harus dimulai dengan mencetak “guru-guru
yang suka berkorban”. Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas
formal”. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan.
“Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Guru bukan sekedar terampil
mengajar bagaimana menjawab soal Ujian Nasional, tetapi diri dan hidupnya harus menjadi
contoh bagi murid-muridnya.
Mohammad Natsir adalah contoh guru sejati, meski tidak pernah mengenyam
pendidikan di fakultas keguruan dan pendidikan. Hidupnya dipenuhi dengan idealisme tinggi
memajukan dunia pendidikan dan bangsanya. Setamat AMS (Algemene Middelbare School)
di Bandung, dia memilih terjun langsung ke dalam perjuangan dan pendidikan. Ia dirikan
Pendis (Pendidikan Islam) di Bandung. Di sini, Natsir memimpin, mengajar, mencari guru
dan dana. Terkadang, ia keliling ke sejumlah kota mencari dana untuk keberlangsungan
pendidikannya. Kadangkala, perhiasan istrinya pun digadaikan untuk menutup uang kontrak
tempat sekolahnya.
Disamping itu, Natsir juga melakukan terobosan dengan memberikan pelajaran agama
kepada murid-murid HIS, MULO, dan Kweekschool (Sekolah Guru). Ia mulai mengajar
agama dalam bahasa Belanda. Kumpulan naskah pengajarannya kemudian dibukukan atas
permintaan Sukarno saat dibuang ke Endeh, dan diberi judul Komt tot Gebeid (Marilah
Shalat).
Kisah Natsir dan sederet guru bangsa lain sangat penting untuk diajarkan di sekolahsekolah
dengan tepat dan benar. Natsir adalah contoh guru yang berkarakter dan bekerja keras
untuk kemajuan bangsanya. Ia adalah orang yang sangat haus ilmu. Cita-citanya bukan untuk
meraih ilmu kemudian untuk mengeruk keuntungan materi dengan ilmunya. Tapi, dia sangat
haus ilmu, lalu mengamalkannya demi kemajuan masyarakatnya.
Pada 17 Agustus 1951, hanya 6 tahun setelah kemerdekaan RI, M. Natsir melalui
sebuah artikelnya yang berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus
Membawa Hanyut”, Natsir mengingatkan bahaya besar yang dihadapi bangsa Indonesia,
yaitu mulai memudarnya semangat pengorbanan. Melalui artikelnya ini, Natsir
menggambarkan betapa jauhnya kondisi manusia Indonesia pasca kemerdekaan dengan prakemerdekaan.
Sebelum kemerdekaan, kata Natsir, bangsa Indonesia sangat mencintai
pengorbanan. Hanya enam tahun sesudah kemerdekaan, segalanya mulai berubah. Natsir
menulis:
“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan
anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun
telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan
sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau… Semua orang menghitung
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 6
pengorbanannya, dan minta dihargai…Sekarang timbul penyakit bakhil. Bakhil
keringat, bakhil waktu dan merajalela sifat serakah… Tak ada semangat dan
keinginan untuk memperbaikinya. Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan
mencari cita-cita yang diluar dirinya...”
Peringatan Natsir hampir 60 tahun lalu itu perlu dicermati oleh para elite bangsa,
khususnya para pejabat dan para pendidik. Jika ingin bangsa Indonesia menjadi bangsa besar
yang disegani di dunia, wujudkanlah guru-guru yang mencintai pengorbanan dan bisa menjadi
teladan bagi bangsanya. Beberapa tahun menjelang wafatnya, Natsir juga menitipkan pesan
kepada sejumlah cendekiawan yang mewawancarainya, ”Salah satu penyakit bangsa
Indonesia, termasuk umat Islamnya, adalah berlebih-lebihan dalam mencintai dunia.” Lebih
jauh, kata Natsir:
”Di negara kita, penyakit cinta dunia yang berlebihan itu merupakan gejala yang
”baru”, tidak kita jumpai pada masa revolusi, dan bahkan pada masa Orde Lama
(kecuali pada sebagian kecil elite masyarakat). Tetapi, gejala yang ”baru” ini, akhirakhir
ini terasa amat pesat perkembangannya, sehingga sudah menjadi wabah dalam
masyarakat. Jika gejala ini dibiarkan berkembang terus, maka bukan saja umat Islam
akan dapat mengalami kejadian yang menimpa Islam di Spanyol, tetapi bagi bangsa
kita pada umumnya akan menghadapi persoalan sosial yang cukup serius.”
*****
Seorang dosen fakultas kedokteran pernah menyampaikan keprihatinan kepada saya.
Berdasarkan survei, separoh lebih mahasiswa kedokteran di kampusnya mengaku, masuk
fakultas kedokteran untuk mengejar materi. Menjadi dokter adalah baik. Menjadi ekonom,
ahli teknik, dan berbagai profesi lain, memang baik. Tetapi, jika tujuannya adalah untuk
mengeruk kekayaan, maka dia akan melihat biaya kuliah yang dia keluarkan sebagai investasi
yang harus kembali jika dia lulus kuliah. Ia kuliah bukan karena mencintai ilmu dan
pekerjaannya, tetapi karena berburu uang!
Kini, sebagaimana dikatakan Natsir, yang dibutuhkan bangsa ini adalah “guru-guru
sejati” yang cinta berkorban untuk bangsanya. Bagaimana murid akan berkarakter; jika setiap
hari dia melihat pejabat mengumbar kata-kata, tanpa amal nyata. Bagaimana anak didik akan
mencintai gurunya, sedangkan mata kepala mereka menonton guru dan sekolahnya materialis,
mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui lembaga pendidikan.
Pendidikan karakter adalah perkara besar. Ini masalah bangsa yang sangat serius.
Bukan urusan Kementerian Pendidikan semata. Presiden, menteri, anggota DPR, dan para
pejabat lainnya harus memberi teladan. Jangan minta rakyat hidup sederhana, hemat BBM,
tapi rakyat dan anak didik dengan jelas melihat, para pejabat sama sekali tidak hidup
sederhana dan mobil-mobil mereka – yang dibiayai oleh rakyat – adalah mobil impor dan
sama sekali tidak hemat.
Pada skala mikro, pendidikan karakter ini harus dimulai dari sekolah, pesantren,
rumah tangga, juga Kantor Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. Dari atas
sampai ke bawah, dan sebaliknya. Sebab, guru, murid, dan juga rakyat sudah terlalu sering
melihat berbagai paradoks. Banyak pejabat dan tokoh agama bicara tentang taqwa;
berkhutbah bahwa yang paling mulia diantara kamu adalah yang taqwa. Tapi, faktanya, saat
menikahkan anaknya, yang diberi hak istimewa dan dipandang mulia adalah pejabat dan yang
berharta. Rakyat kecil dan orang biasa dibiarkan berdiri berjam-jam mengantri untuk
bersalaman.
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 7
Kalau para tokoh agama, dosen, guru, pejabat, lebih mencintai dunia dan jabatan,
ketimbang ilmu, serta tidak sejalan antara kata dan perbuatan, maka percayalah, Pendidikan
Karakter yang diprogramkan Kementerian Pendidikan hanya akan berujung slogan!
*****
Tidak cukup!
Jika bangsa Cina maju sebagai hasil pendidikan karakter, lalu apa bedanya orang
komunis yang berkarakter dengan orang muslim yang berkarakter? Orang komunis, atau
ateis, bisa saja menjadi pribadi yang jujur, pekerja keras, berani, bertanggung jawab,
mencintai kebersihan, dan sebagainya. Orang muslim juga bisa seperti itu. Dimana letak
bedanya?
Bedanya pada konsep adab. Yang diperlukan oleh kaum Muslim Indonesia bukan
hanya menjadi seorang yang berkarakter, tetapi harus menjadi seorang yang berkarakter dan
beradab. Pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, misalnya, dalam kitabnya, Adabul
Alim wal-Muta’allim, mengutip pendapat Imam al-Syafi’i yang menjelaskan begitu
pentingnya kedudukan adab dalam Islam. Bahkan, Sang Imam menyatakan, beliau mengejar
adab laksana seorang ibu yang mengejar anak satu-satunya yang hilang.
Lalu, Syaikh Hasyim Asy’ari mengutip pendapat sebagian ulama: ”at-Tawhidu yujibul
imana, faman la imana lahu la tawhida lahu; wal-imanu yujibu al-syari’ata, faman la
syari’ata lahu, la imana lahu wa la tawhida lahu; wa al-syari’atu yujibu al-adaba, faman la
adaba lahu, la syari’ata lahu wa la imana lahu wa la tawhida lahu.” (Hasyim Asy’ari,
Adabul Alim wal-Muta’allim, Jombang: Maktabah Turats Islamiy, 1415 H). hal. 11).
Jadi, secara umum, menurut Kyai Hasyim Asy’ari, Tauhid mewajibkan wujudnya
iman. Barangsiapa tidak beriman, maka dia tidak bertauhid; dan iman mewajibkan syariat,
maka barangsiapa yang tidak ada syariat padanya, maka dia tidak memiliki iman dan tidak
bertauhid; dan syariat mewajibkan adanya adab; maka barangsiapa yang tidak beradab maka
(pada hakekatnya) tiada syariat, tiada iman, dan tiada tauhid padanya.
Jadi, betapa pentingnya kedudukan adab dalam ajaran Islam. Lalu, apa sebenarnya
konsep adab? Uraian yang lebih rinci tentang konsep adab dalam Islam disampaikan oleh
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, pakar filsafat dan sejarah Melayu. Menurut Prof.
Naquib al-Attas, adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan
kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang
merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.” Pengenalan adalah ilmu;
pengakuan adalah amal. Maka, pengenalan tanpa pengakuan seperti ilmu tanpa amal; dan
pengakuan tanpa pengenalan seperti amal tanpa ilmu. ”Keduanya sia-sia kerana yang satu
mensifatkan keingkaran dan keangkuhan, dan yang satu lagi mensifatkan ketiadasedaran dan
kejahilan,” demikian Prof. Naquib al-Attas. (SM Naquib al-Attas, Risalah untuk Kaum
Muslimin, (ISTAC, 2001).
Begitu pentingnya masalah adab ini, maka bisa dikatakan, jatuh-bangunnya umat
Islam, tergantung sejauh mana mereka dapat memahami dan menerapkan konsep adab ini
dalam kehidupan mereka. Manusia yang beradab terhadap orang lain akan paham bagaimana
mengenali dan mengakui seseorang sesuai harkat dan martabatnya. Martabat ulama yang
shalih beda dengan martabat orang fasik yang durhaka kepada Allah. Jika al-Quran
menyebutkan, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa (QS
49:13), maka seorang yang beradab tidak akan lebih menghormat kepada penguasa yang
zalim ketimbang guru ngaji di kampung yang shalih. Dalam masyarakat yang beradab,
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 8
seorang penghibur tidak akan lebih dihormati ketimbang pelajar yang memenangkan
Olimpiade fisika. Seorang pelacur atau pezina ditempatkan pada tempatnya, yang seharusnya
tidak lebih tinggi martabatnya dibandingkan muslimah-muslimah yang shalihah. Itulah adab
kepada sesama manusia.
Adab juga terkait dengan ketauhidan, sebab adab kepada Allah mengharuskan seorang
manusia tidak menserikatkan Allah dengan yang lain. Tindakan menyamakan al-Khaliq
dengan makhluk merupakan tindakan yang tidak beradab. Karena itulah, maka dalam al-
Quran disebutkan, Allah murka karena Nabi Isa a.s. diangkat derajatnya dengan al-Khaliq,
padahal dia adalah makhluk. Tauhid adalah konsep dasar bagi pembangunan manusia
beradab. Menurut pandangan Islam, masyarakat beradab haruslah meletakkan al-Khaliq pada
tempat-Nya sebagai al-Khaliq, jangan disamakan dengan makhluq.
Itulah adab kepada Allah SWT. Nabi Muhammad saw adalah juga manusia. Tetapi,
beliau berbeda dengan manusia lainnya, karena beliau adalah utusan Allah. Sesama manusia
saja tidak diperlakukan sama. Seorang presiden dihormati, diberi pengawalan khusus,
diberikan gaji yang lebih tinggi dari gaji guru ngaji, dan sering disanjung-sanjung, meskipun
kadangkala keliru. Orang berebut untuk menjadi Presiden karena dianggap jika menjadi
Presiden akan menjadi orang terhormat atau memiliki kekuasaan besar sehingga dapat
melakukan perubahan.
Sebagai konsekuensi adab kepada Allah, maka adab kepada Rasul-Nya, tentu saja
adalah dengan cara menghormati, mencintai, dan menjadikan Sang Nabi saw sebagai suri
tauladan kehidupan (uswah hasanah). Setelah beradab kepada Nabi Muhammad saw,
maka adab berikutnya adalah adab kepada ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Maka,
kewajiban kaum Muslim adalah mengenai, siapa ulama yang benar-benar menjalankan
amanah risalah, dan siapa ulama ”palsu” atau ”ulama jahat (ulama su’). Ulama jahat harus
dijauhi, sedangkan ulama yang baik harus dijadikan panutan dan dihormati sebagai ulama.
Mereka tidak lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan para umara. Maka, sangatlah
keliru jika seorang ulama merasa lebih rendah martabatnya dibandingkan dengan penguasa.
Adab adalah kemampuan dan kemauan untuk mengenali segala sesuatu sesuai dengan
martabatnya. Ulama harusnya dihormati karena ilmunya dan ketaqwaannya, bukan karena
kepintaran bicara, kepandaian menghibur, dan banyaknya pengikut. Maka, manusia beradab
dalam pandangan Islam adalah yang mampu mengenali siapa ulama pewaris nabi dan siapa
ulama yang palsu sehingga dia bisa meletakkan ulama sejati pada tempatnya sebagai tempat
rujukan.
Syekh Wan Ahmad al Fathani dari Pattani, Thailand Selatan, (1856-1908), dalam
kitabnya Hadiqatul Azhar war Rayahin (Terj. Oleh Wan Shaghir Abdullah), berpesan agar
seseorang mempunyai adab, maka ia harus selalu dekat dengan majelis ilmu. Syekh Wan
Ahmad menyatakan : “Jadikan olehmu akan yang sekedudukan engkau itu (majelis)
perhimpunan ilmu yang engkau muthalaah akan dia. Supaya mengambil guna engkau
daripada segala adab dan hikmah.”
Karena itulah, sudah sepatutnya dunia pendidikan kita sangat menekankan proses
ta’dib, sebuah proses pendidikan yang mengarahkan para siswanya menjadi orang-orang yang
beradab. Sebab, jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kezaliman,
kebodohan dan menuruti hawa nafsu yang merusak. Karena itu, adab mesti ditanamkan pada
seluruh manusia dalam berbagai lapisan, pada murid, guru, pemimpin rumah tangga,
pemimpin bisnis, pemimpin masyarakat dan lainnya.
Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah
dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu
(ulama) adalah pewaris nabi. Karena itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali
www.rajaebookgratis.com
h t t p : / / w w w . i n s i s t n e t . c o m
Hal. 9
mengingatkan, orang yang mecari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan
duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya,
Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw:
“Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan
Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syaikhul Islam Ibn Taimiyah, juga
menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a. yang
menyatakan: “Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad,
sesungguhnya ia kurang akalnya.” Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari
Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa masuk ke
masjid ku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang
berjihad di jalan Allah.”
Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab
tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak
bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan
pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Lebih fatal lagi, jika
manusia yang tidak beradab itu kemudian merasa tahu, padahal dia sebenarnya ia tidak tahu.
Dengan adab inilah, seorang Muslim dapat menempatkan karakter pada tempatnya?
Kapan dia harus jujur, kapan dia boleh berbohong, untuk apa dia bekerja dan belajar keras?
Dalam pandangan Islam, jika semua itu dilakukan untuk tujuan-tujuan pragmatis duniawi,
maka tindakan itu termasuk kategori “tidak beradab”, alias biadab. Jadi, setiap Muslim harus
berusaha menjalani pendidikan karakter, sekaligus menjadikan dirinya sebagai manusia
beradab. Seharusnya, program mencetak manusia berkarakter dan beradab ini masuk dalam
program resmi Pendidikan Nasional, sesuai dengan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang
adil dan beradab.
Itulah hakekat dari tujuan pendidikan, menurut Islam, yakni mencetak manusia yang
baik, sebagaimana dirumuskan oleh Prof. S.M.Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and
Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice
in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a
goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the
inculcation of adab…”
“Orang baik” atau good man, tentunya adalah manusia yang berkarakter dan beradab.
Tidak cukup seorang memiliki berbagai nilai keutamaan dalam dirinya, tetapi dia tidak ikhlas
dalam mencari ilmu, enggan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan suka mengumbar
aurat dan maksiat. Pendidikan, menurut Islam, haruslah bertujuan membangun karakter dan
adab sekaligus!
Moh. Iqbal dengan indah menggambarkan sosok pribadi Muslim yang tangguh karena
ketundukannya kepada Allah:
“Biarlah cinta membakar semua ragu dan syak wasangka,
Hanyalah kepada yang Esa kau tunduk, agar kau menjadi singa.”
*****
(Disampaikan dalam diskusi sabtuan di INSISTS, 12 Juni 2010)
www.rajaebookgratis.com

Membentuk Karakter Cara Islam

Membentuk Karakter Cara Islam
(ringkasan)
Judul Buku : Membentuk Karakter Cara Islam
Penulis : M. Anis Matta
Penerbit : Al-I’tishom Cahaya Umat, Jakarta
Tahun : 2002
Ukuran Buku : 90 hal; 12,5 cm x 19 cm
ISBN : 979-3071-11-7
Edisi Cetakan : Cetakan ketiga, Mei 2003
Perangkum : pustaka hanan
Anda pernah mendengar kata “split personality”? atau kepribadian yang terpecah? Maka semua itu berhubungan dengan proses pembentukan karakter seorang manusia. Karakter yang ada di dalam dirinya. Maka buku ini akan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan karakter manusia dan proses pembentukannya, serta langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk membentuk karakter cara islam.
Krisis Moral dan Kepribadian
Kita hidup dalam sebuah dunia yang gelap, dimana setiap orang meraba-raba, namun tidak menemukan denyut nurani, tidak merasakan sentuhan kasih, dan tidak melihat sorot mata persahabatan yang tulus, dalam hal ini masyarakat mungkin mengalami krisis moral. Krisis moral dapat ditandai oleh dua gejala yaitu tirani dan keterasingan. Tirani merupakan gejala dari rusaknya perilaku sosial, sedangkan keterasingan menandai rusaknya hubungan sosial.
Penyebab terjadinya krisis moral adalah :
1. Adanya penyimpangan pemikiran dalam sejarah pemikiran manusia yang menyebabkan paradoks antarnilai, misalnya etika dan estetika
2. Hilangnya model kepribadian yang integral, yang memadukan kesalihan dengan kesuksesan, kebaikan dengan kekuatan, dan seterusnya
3. Munculnya antagonisme dalam pendidikan moral
4. Lemahnya peranan lembaga sosial yang menjadi basis pendidikan moral
Krisis moral ini menimbulkan begitu banyak ketidakseimbangan di dalam masyarakat yang tentunya tidak membuat masyarakat bahagia. Maka solusi yang sangat tepat bagi masalah ini hanya satu yaitu : Kembali menempuh jalan Allah, kembali kepada jalan islam. “Maka, barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 38)
Ringkasan, Membentuk Karakter Cara Islam 1
Akhlak Dalam Semua Sisi Kehidupan
Akhlak adalah nilai pemikiran yang telah menjadi sikap mental yang mengakar dalam jiwa, lalu tampak dalam bentuk tindakan dan perilaku yang bersifat tetap, natural, dan refleks. Jadi, jika nilai islam mencakup semua sektor kehidupan manusia, maka perintah beramal shalih pun mencakup semua sektor kehidupan manusia itu.
Akhlak = Iman + Amal Shalih
Maka akhlak Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki individu manusia dan merekonstruksi visi, membangun mentalitas, serta membentuk akhlak dan karakternya. Demikianlah, Laa Ilaaha Illallaah sebagai kumpulan nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan memasuki masyarakat manusia dan mereformasi sistem, serta membangun budaya dan mengembangkan peradabannya.
Walaupun islam merinci satuan akhlak terpuji, namun dengan pengamatan mendalam, kita menemukan satuan tersebut sesungguhnya mengakar pada induk karakter tertentu. Sedangkan akhlak tercela seperti penyakit syubhat dan syahwat, sama bersumber dari kelemahan akal dan jiwa.
Pembentukan prilaku
Faktor-faktor pembentuk perilaku antara lain :
Faktor internal :
1. Instink biologis, seperti lapar, dorongan makan yang berlebihan dan berlangsung lama akan menimbulkan sifat rakus, maka sifat itu akan menjadi perilaku tetapnya, dan seterusnya
2. Kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, penghargaan, penerimaan, dan aktualisasi diri
3. Kebutuhan pemikiran, yaitu akumulasi informasi yang membentuk cara berfikir seseorang seperti mitos, agama, dan sebagainya
Faktor eksternal
1. Lingkungan keluarga
2. Lingkungan sosial
3. Lingkungan pendidikan
Islam membagi akhlak menjadi dua yaitu :
1. fitriyah, yaitu sifat bawaan yang melekat dalam fitrah seseorang yang dengannya ia diciptakan, baik sifat fisik maupun jiwa.
2. Muktasabah, yaitu sifat yang sebelumnya tidak ada namun diperoleh melalui lingkungan alam dan sosial, pendidikan, pelatihan, dan pengalaman
Ringkasan, Membentuk Karakter Cara Islam 2
Proses pembelajaran
Dalam konsep Islam, karakter tidak sekali terbentuk, lalu tertutup, tetapi terbuka bagi semua bentuk perbaikan, pengembangan, dan penyempurnaan, sebab sumber karakter perolehan ada dan bersifat tetap. Karenanya orang yang membawa sifat kasar bisa memperoleh sifat lembut, setelah melalui mekanisme latihan. Namun, sumber karakter itu hanya bisa bekerja efektif jika kesiapan dasar seseorang berpadu dengan kemauan kuat untuk berubah dan berkembang, dan latihan yang sistematis.
Tahapan perkembangan perilaku
Tahap I (0 – 10 tahun)
Perilaku lahiriyah, metode pengembangannya adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan (imbalan) dan pelemahan (hukuman), indoktrinasi
Tahap II ( 11 – 15 tahun)
Perilaku kesadaran, metode pengambangannya adalah penanaman nilai melalui dialog, pembimbingan, dan pelibatan
Tahap III ( 15 tahun ke atas)
Kontrol internal atas perilaku, metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup, dan penguatan tanggung jawab kepada Allah swt
Ambivalensi Kejiwaan Manusia
Ambivalensi adalah dua garis jiwa yang berbeda bahkan berlawanan, namun saling berhadapan. Fungsinya :
1. Merekatkan sisi-sisi kepribadian manusia tetap utuh
2. Memperluas wilayah kepribadian manusia dengan tetap menjaga pusat keseimbangannya
3. Menjaga dinamika perkembangan jiwa manusia
Seseorang akan memiliki tingkat kesehatan mental yang baik, jika garis jiwa yang ambivalen berjalan dan bergerak secara harmonis, seakan simfoni indah orkestra handal. Maka langkah yang harus ditempuh agar simfoni tersebut mengalun indah dan harmonis adalah :
1. Atur posisi dan komposisi garis jiwa itu secara benar, dan hilangkan semua kecenderungan jiwa yang salah
2. Berikan atau tentukan arah kecenderungan jiwa secara benar dan natural.
3. Lihat ekspresinya dalam bentuk sikap dan perilaku kesehariannya
Garis jiwa yang ambivalen ada dalam diri manusia sejak ia lahir sampai ia mati, melekat, dan mewarnai semua sisi kehidupannya. Walaupun demikian, tetap ada perbedaan mendasar tentang objek dan alasan yang melahirkan garis jiwa menjadi perilaku, pada tahapan usia yang berbeda pula.
Pembentukan Kepribadian
Kepribadian terbentuk setelah melalui proses :
Ringkasan, Membentuk Karakter Cara Islam 3
1. Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideologi, dan sebagainya
2. Nilai membentuk pola pikir seseorang yang secara keseluruhan ke luar dalam bentuk rumusan visinya
3. Visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas
4. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap
5. Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian
Tiga langkah merubah karakter
1. Terapi kognitif
Cara yang paling efektif untuk memperbaiki karakter dan mengembangkannya adalah dengan memperbaiki cara berfikir
Langkah :
Pengosongan, berarti mengosongkan benak kita dari berbagai bentuk pemikiran yang salah, menyimpang, tidak berdasar, baik dari segi agama maupun akal yang lurus
Pengisian, berarti mengisi kembali benak kita dengan nilai-nilai baru dari sumber keagamaan kita, yang membentuk kesadaran baru, logika baru, arah baru, dan lensa baru dalam cara memandang berbagai masalah
Kontrol, berarti kita harus mengontrol pikiran-pikiran baru yang melintas dalam benak kita, sebelum berkembang menjadi gagasan yang utuh
Doa, berarti bahwa kita mengharapkan unsur pencerahan Ilahi dalam cara berfikir kita
2. Terapi mental
Warna perasaan kita adalah cermin bagi tindakan kita. Tindakan yang harmonis akan mengukir lahir dari warna perasaan yang kuat dan harmonis
Langkah :
Pengarahan, berarti perasaan-perasaan kita harus diberi arah yang jelas, yaitu arah yang akan menentukan motifnya. Setiap perasaan haruslah mempunyai alasan lahir yang jelas. Itu hanya mungkin jika perasaan dikaitkan secara kuat dengan pikiran kita
Penguatan, berarti kita harus menemukan sejumlah sumber tertentu yang akan menguatkan perasaan itu dalam jiwa kita. Ini secara langsung terkait dengan unsur keyakinan, kemauan, dan tekad yang dalam yang memenuhi jiwa, sebelum kita melakukan suatu tindakan.
Kontrol, berarti kita harus memunculkan kekuatan tertentu dalam diri yang berfungsi mengendalikan semua warna perasaan diri kita
Doa, berarti kita mengharapkan adanya dorongan Ilahiyah yang berfungsi membantu semua proses pengarahan, penguatan, dan pengendalian bagi mental kita
Ringkasan, Membentuk Karakter Cara Islam 4
3. Perbaikan fisik
Sebagaimana ahli kesehatan mengatakan bahwa dasar-dasar kesehatan itu tercipta melalui perpaduan yang baik antara tiga unsur :
1. Gizi makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan
2. Olahraga yang teratur dalam kadar yang cukup
3. Istirahat yang cukup dan memenuhi kebutuhan relaksasi tubuh
Hadist riwayat Imam Ahmad :
Rasulullah berkata, “Inginkah kalian kuberitahu tentang siapa dari kalian yang paling kucintai dan akan duduk di majelis terdekat denganku di hari kiamat?”
Kemudian Rasul mengulanginya sampai tiga kali, dan sahabat menjawab “Iya, ya rasulullah !” Lalu rasul bersabda, “Orang yang paling baik akhlaknya.”
Ringkasan, Membentuk Karakter Cara Islam 5